9. Apakah identitas sosial mencerminkan diri sejati

 9. Apakah identitas sosial mencerminkan diri sejati



Pertanyaan ini mengajak kita untuk menyelidiki apakah label-label yang diberikan oleh masyarakat atau yang kita terima sebagai milik kita, seperti nama, pekerjaan, status, agama, suku, dan peran sosial lainnya, sama dengan jati diri kita yang sebenarnya. Jawaban singkatnya adalah tidak. Identitas sosial hanyalah topeng yang kamu pakai dalam pergaulan sehari-hari, bukan diri sejati. Identitas sosial bisa berubah tergantung waktu, tempat, dan lingkungan, sementara diri sejati tetap sama, tidak terpengaruh oleh peran apapun. Identitas sosial berguna untuk hidup bermasyarakat, tetapi bencana terjadi ketika kamu menyamakannya dengan dirimu yang sebenarnya. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan perbedaan ini secara mendalam.
Apa itu identitas sosial.
Identitas sosial adalah kumpulan label dan peran yang diberikan oleh masyarakat atau yang kamu terima sebagai milikmu. Contoh identitas sosial antara lain nama dan nama keluarga, jenis kelamin dan orientasi seksual, kewarganegaraan dan suku bangsa, agama atau kepercayaan, pekerjaan dan jabatan, status pernikahan, status sebagai orangtua atau anak, afiliasi politik, hobi dan komunitas yang diikuti, status ekonomi seperti kaya, miskin, atau menengah, serta label kepribadian seperti ekstrovert, introvert, perfeksionis, dan sebagainya. Semua identitas ini tidak melekat secara alami pada dirimu. Kamu lahir tidak membawa nama, tidak membawa KTP, tidak membawa gelar sarjana, tidak membawa status menikah. Semua itu diberikan kemudian oleh lingkungan, dan kamu terima sebagai bagian dari dirimu. Dalam perjalanan hidup, identitas bisa bertambah, berkurang, atau berganti sama sekali. Seorang anak tidak memiliki identitas sebagai manajer, suami, atau warga negara tertentu. Semua itu diperoleh sepanjang hidup. Ini menunjukkan bahwa identitas bersifat tambahan, bukan esensial.
Identitas sosial bersifat sementara dan selalu berubah.
Identitas yang kamu pegang hari ini belum tentu kamu pegang sepuluh tahun yang lalu atau sepuluh tahun yang akan datang. Seorang mahasiswa yang identitasnya adalah pelajar, suatu saat akan menjadi sarjana, kemudian menjadi karyawan, kemudian mungkin menjadi manajer, kemudian pensiun dan kehilangan identitas pekerjaan. Seorang lajang menjadi suami atau istri, kemudian mungkin bercerai dan kehilangan identitas pasangan. Seorang kaya raya bisa bangkrut, dan identitasnya berubah menjadi miskin. Seorang yang dihormati sebagai pemimpin bisa jatuh, dan identitasnya berubah menjadi terhina. Bahkan nama bisa berubah karena pernikahan, adopsi, atau alasan hukum. Jika diri sejati adalah identitas sosial, maka setiap kali identitas berubah, kamu harus mati dan lahir sebagai orang baru. Setiap kali kamu berganti pekerjaan, kamu harus menjadi orang baru. Setiap kali kamu menikah atau bercerai, kamu harus menjadi orang baru. Setiap kali kamu pindah agama, kamu harus menjadi orang baru. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Kamu tetap merasa sebagai orang yang sama meskipun label-label di sekitarmu berganti. Kamu masih merasa bahwa akulah yang dulu mahasiswa, akulah yang sekarang bekerja, akulah yang dulu lajang, akulah yang sekarang menikah. Ada rasa aku yang kontinu di balik semua perubahan identitas. Ini bukti bahwa identitas sosial bukanlah dirimu yang sejati. Dirimu yang sejati adalah yang menyaksikan perubahan identitas, bukan identitas itu sendiri.
Identitas sosial bergantung pada pengakuan orang lain.
Seorang raja hanya raja jika ada rakyat yang mengakuinya sebagai raja. Jika semua rakyatnya pergi atau tidak mengakui kekuasaannya, ia hanyalah manusia biasa yang duduk di singgasana kosong. Seorang guru hanya guru jika ada murid yang memanggilnya guru. Jika tidak ada murid yang datang, ia hanyalah orang yang memiliki pengetahuan tetapi tidak ada yang belajar darinya. Seorang selebriti hanya selebriti jika ada penggemar yang mengikutinya. Jika penggemarnya bubar, ia kembali menjadi orang biasa. Ini berarti identitas sosial tidak berdiri sendiri. Ia butuh validasi terus-menerus dari luar. Ia butuh orang lain untuk mengakui, mengkonfirmasi, dan merayakannya. Inilah mengapa ego yang teridentifikasi dengan peran sosial sangat sensitif terhadap kritik, penolakan, dan pengabaian. Jika orang lain tidak mengakui aku sebagai orang sukses, maka aku merasa gagal. Jika orang lain tidak mengakui aku sebagai orang baik, maka aku merasa hancur. Jika orang lain tidak mengakui aku sebagai pemimpin, maka aku merasa tidak berharga. Ketergantungan pada pengakuan orang lain ini adalah sumber penderitaan yang besar. Diri sejati atau kesadaran tidak pernah butuh pengakuan siapapun. Ia tetap utuh dan sempurna meskipun seluruh dunia melupakannya, bahkan meskipun seluruh dunia memusuhinya. Ia tidak butuh validasi karena ia sudah lengkap dengan sendirinya. Ia tidak butuh pujian karena ia tidak kekurangan. Ia tidak takut kritik karena ia tidak memiliki image yang harus dilindungi.
Konflik identitas sosial sebagai sumber penderitaan manusia.
Hampir semua konflik yang terjadi di dunia, dari skala kecil hingga besar, dari pertengkaran rumah tangga hingga perang dunia, berasal dari pertahanan identitas sosial. Saya Kristen, dia Islam, maka konflik. Saya suku A, dia suku B, maka konflik. Saya pendukung partai X, dia pendukung partai Y, maka konflik. Saya kaya, dia miskin, maka timbul rasa jijik, takut, atau merendahkan. Saya pintar, dia bodoh, maka timbul kesombongan. Saya dari kelompok ini, dia dari kelompok itu, maka timbul prasangka dan diskriminasi. Ketika seseorang menyerang keyakinan agamamu, yang terserang bukanlah jati dirimu, tetapi identitas sosial yang kamu lekatkan pada agama itu. Namun karena kamu mengira identitas itu adalah dirimu, maka kamu merasa diserang dan bereaksi dengan marah, benci, atau balas menyerang. Kamu rela berdebat berjam-jam, rela bermusuhan, bahkan rela membunuh dan mati demi membela identitas. Padahal identitas itu hanyalah cerita, hanyalah label, hanyalah pakaian yang kamu pakai. Jika kamu tahu bahwa identitas sosial hanyalah pakaian, tidak ada alasan untuk berperang demi pakaian. Kamu bisa berganti pakaian kapan saja tanpa kehilangan dirimu. Kamu bisa mengenakan pakaian yang berbeda untuk acara yang berbeda. Kamu bisa menghormati pakaian orang lain tanpa harus memakainya. Perang demi pakaian adalah kebodohan yang luar biasa, tetapi itulah yang dilakukan manusia setiap hari karena lupa bahwa dirinya bukan pakaian itu.
Perbedaan antara identitas sosial dan diri sejati dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh saat bekerja. Kamu adalah seorang manajer di kantor. Identitas sosialmu memberi wewenang untuk memberi perintah, mengevaluasi bawahan, dan membuat keputusan. Tetapi saat kamu pulang ke rumah dan bertemu orang tuamu, kamu bukan lagi manajer. Kamu adalah anak. Jika kamu masih membawa identitas manajer ke rumah, jika kamu masih memberi perintah kepada orang tuamu seperti memberi perintah kepada bawahan, hubungan keluargamu akan kacau. Kamu bisa berganti peran dengan fleksibel karena kamu tahu bahwa kamu bukan peran itu. Kamu adalah aktor yang memainkan peran, bukan peran itu sendiri. Aktor yang baik bisa memainkan peran raja dengan penuh wibawa di atas panggung, dan setelah turun panggung, ia bisa menjadi suami yang lembut atau ayah yang playful. Ia tidak membawa identitas raja ke rumah. Demikian pula, kamu bisa menjadi manajer yang tegas di kantor, dan menjadi anak yang patuh di rumah, tanpa kebingungan identitas, karena kamu tahu siapa dirimu yang sebenarnya di balik semua peran.
Contoh saat kehilangan pekerjaan. Seseorang yang sangat teridentifikasi sebagai direktur akan hancur saat dipecat. Ia merasa kehilangan jati diri. Ia tidak tahu siapa dirinya tanpa jabatan itu. Ia mungkin jatuh dalam depresi, menarik diri dari pergaulan karena malu, atau bahkan bunuh diri. Ia mengira bahwa dirinya adalah jabatannya, sehingga ketika jabatan hilang, ia merasa mati. Seseorang yang tahu bahwa direktur hanyalah peran sosial akan tetap tenang. Ia kehilangan pekerjaan, tetapi tidak kehilangan dirinya. Ia mungkin sedih, mungkin kecewa, mungkin khawatir tentang keuangan, tetapi tidak ada krisis identitas. Ia tahu bahwa ia masih utuh sebagai kesadaran. Ia bisa mencari peran lain, pekerjaan lain, tanpa rasa malu atau putus asa. Ia tetap bisa tersenyum, tetap bisa membantu orang lain, tetap bisa menikmati secangkir teh. Hidupnya tidak hancur hanya karena satu peran berakhir.
Contoh saat dipanggil dengan nama yang salah. Jika seseorang salah memanggil namamu, misalnya memanggil Budi padahal namamu Ahmad, kamu biasanya akan mengoreksinya dengan tenang. Tetapi jika kamu sangat teridentifikasi dengan nama, jika nama adalah bagian besar dari identitasmu, kamu bisa merasa tersinggung, apalagi jika kesalahan itu disengaja. Padahal nama diberikan orang tuamu saat lahir. Nama bukanlah dirimu. Jika kamu pindah ke negara lain, kamu bisa mengganti nama dengan nama lokal tanpa kehilangan siapapun. Jika kamu menikah, kamu bisa mengganti nama keluarga tanpa menjadi orang berbeda. Nama adalah label, bukan esensi. Menjadi tersinggung karena nama disebut salah sama seperti marah karena amplop ditulis dengan tinta yang salah. Yang penting adalah isi amplop, bukan label di luarnya.
Mengapa manusia begitu kuat terikat pada identitas sosial.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia sangat terikat pada identitas sosial.
Faktor pertama adalah evolusi dan kelangsungan hidup. Pada masa purba, dikucilkan dari kelompok berarti kematian. Manusia purba yang sendirian tidak bisa berburu binatang besar, tidak mendapat perlindungan dari musuh, tidak ada yang merawat saat sakit. Karena itu, otak manusia berevolusi untuk sangat membutuhkan penerimaan sosial. Penolakan sosial terasa menyakitkan secara fisik karena area otak yang sama aktif saat sakit fisik dan saat ditolak oleh kelompok. Identitas sosial adalah tanda bahwa kamu diterima dalam kelompok. Tanpa identitas, kamu tidak ada dalam peta sosial, dan itu terancam punah. Meskipun zaman sudah berubah, warisan evolusi ini masih kuat dalam diri kita.
Faktor kedua adalah pola asuh. Sejak kecil, anak belajar bahwa ia dicintai jika berperilaku sesuai dengan identitas tertentu yang diberikan orang tua. Kamu anak yang baik, Kamu anak yang pintar, Kamu anak yang sopan. Sebaliknya, jika melanggar identitas itu, ia mendapat hukuman, omelan, atau penarikan cinta. Anak belajar bahwa identitas sosial sama dengan kelayakan untuk dicintai. Jika aku tidak menjadi anak yang baik, aku tidak layak dicintai. Pola ini terbawa hingga dewasa. Kita terus berusaha mempertahankan identitas positif agar tetap dicintai dan dihargai.
Faktor ketiga adalah budaya dan media. Budaya modern terus-menerus memperkuat identitas. Iklan berkata, Mobil mewah ini untuk orang sukses. Jam tangan ini untuk orang berkelas. Tas ini untuk wanita mandiri. Media sosial mendorong orang untuk memamerkan identitas, liburan mewah, jabatan tinggi, pasangan tampan atau cantik, rumah besar, hobi keren. Semakin banyak likes, semakin terasa identitas itu nyata dan berharga. Semakin sedikit likes, semakin terasa identitas itu tidak berarti. Kita hidup dalam ekonomi perhatian di mana identitas adalah komoditas yang diperjualbelikan.
Faktor keempat adalah ketidaktahuan akan jati diri. Pada akhirnya, manusia melekat pada identitas sosial karena tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ketika tidak ada pengalaman langsung akan kesadaran sejati, identitas sosial menjadi satu-satunya pegangan untuk merasa ada, merasa berarti, merasa bahwa aku adalah seseorang. Melepaskan identitas sosial terasa seperti bunuh diri karena selama ini tidak pernah mengenal alternatif lain. Seperti seseorang yang tinggal di rumah bobrok sepanjang hidupnya, ia takut meninggalkan rumah itu meskipun bobrok, karena ia tidak tahu bahwa di luar ada rumah yang indah dan nyaman. Ketidaktahuan akan jati diri adalah akar dari keterikatan berlebihan pada identitas sosial.
Identitas sosial sebagai alat, bukan sebagai tuan.
Identitas sosial sebenarnya berguna. Tanpa identitas sosial, masyarakat akan kacau karena tidak ada aturan siapa bertanggung jawab untuk apa. Kamu perlu identitas sebagai karyawan untuk mendapat gaji, sebagai warga negara untuk membayar pajak dan mendapat hak, sebagai orangtua untuk mengurus anak secara legal, sebagai pasien untuk mendapat perawatan medis. Identitas sosial adalah bagian dari tatanan sosial yang memungkinkan masyarakat berfungsi. Yang menjadi masalah bukan identitas sosial itu sendiri, tetapi identifikasi berlebihan, yaitu meyakini bahwa identitas itu adalah dirimu yang sejati. Penggunaan identitas sosial yang sehat adalah seperti menggunakan pakaian. Kamu memakai pakaian yang sesuai dengan cuaca dan acara, tetapi kamu tidak lupa bahwa kamu bukan pakaian itu. Kamu bisa mengganti pakaian kapan saja tanpa kehilangan dirimu. Kamu bisa memakai jas rapi saat rapat, dan memakai kaoblong santai saat di rumah. Kamu tidak menjadi orang berbeda hanya karena berganti baju. Demikian pula dengan identitas sosial. Kamu bisa menjadi manajer di kantor, ayah di rumah, teman di komunitas, pelanggan di toko. Kamu berganti peran dengan mudah karena kamu tahu bahwa kamu bukan peran itu. Penggunaan identitas sosial yang tidak sehat adalah seperti pakaian yang menyatu dengan kulit, seperti luka bakar. Pakaian menempel dan tidak bisa dilepas tanpa rasa sakit. Setiap kali identitas disentuh, kamu merasa tersiksa. Setiap kali identitas dikritik, kamu merasa diserang. Setiap kali identitas terancam, kamu panik. Ini adalah tanda bahwa kamu terlalu teridentifikasi.
Tanda-tanda bahwa kamu terlalu teridentifikasi dengan identitas sosial.
Ada beberapa tanda yang bisa kamu kenali. Kamu tersinggung berat ketika orang mengkritik agamamu, keyakinan politikmu, pekerjaanmu, atau kelompokmu. Kamu merasa harus selalu mempertahankan image tertentu di depan orang lain, tidak bisa menjadi diri sendiri. Kamu tidak bisa santai karena takut terlihat tidak sesuai dengan peranmu, takut dihakimi, takut diejek. Kamu sangat bergantung pada pujian dan sangat terpukul oleh kritik, karena pujian dan kritik dianggap sebagai penilaian atas dirimu, bukan atas peranmu. Kamu merasa kehilangan arah, hampa, atau depresi ketika kehilangan status pekerjaan, jabatan, hubungan, atau ketika pensiun. Kamu sulit bergaul dengan orang dari kelompok sosial yang berbeda karena merasa identitasmu terancam oleh perbedaan mereka. Kamu sering membandingkan status sosialmu dengan orang lain, dan perbandingan itu menentukan suasana hatimu. Kamu merasa hampa dan tidak berarti ketika sendirian tanpa ada yang melihatmu, karena identitasmu butuh penonton untuk terasa nyata. Semakin banyak tanda ini, semakin dominan identifikasi berlebihan dalam hidupmu.
Cara melepaskan keterikatan berlebihan pada identitas sosial.
Melepaskan keterikatan pada identitas sosial tidak berarti kamu harus meninggalkan masyarakat, berhenti bekerja, mengganti nama, atau menjadi pertapa. Kamu tetap bisa menjalankan semua peran sosial, tetapi dengan cara yang lebih ringan, lebih bebas, lebih sadar. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya.
Langkah pertama, sadari bahwa identitas adalah peran. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, duduklah sejenak. Ingatkan dirimu, Hari ini aku akan memainkan peran sebagai A, B, C. Aku akan memainkannya sebaik mungkin karena itu adalah tugas dan tanggung jawabku. Tetapi aku tahu bahwa ini hanya peran. Diriku yang sejati tidak tergantung pada bagaimana peran ini berjalan. Jika peran ini berhasil, itu baik. Jika gagal, aku tidak hancur. Aku adalah aktor, bukan peran.
Langkah kedua, amati identitas sebagai objek. Duduk diam. Sebutkan satu per satu identitas sosialmu dalam hati, seperti menyebutkan daftar belanja. Saya seorang A, saya seorang B, saya seorang C. Setelah menyebutkan, tanyakan dalam hati, Siapa yang menyadari bahwa saya memiliki identitas-identitas ini. Yang menyadari bukanlah identitas itu. Yang menyadari adalah kesadaran. Diamlah sebagai yang menyadari. Rasakan bahwa di balik semua label, ada kehadiran yang tidak berlabel. Diam dalam kehadiran itu.
Langkah ketiga, latih berganti peran dengan sadar. Cobalah melakukan sesuatu di luar kebiasaan identitas biasanya. Jika kamu adalah manajer yang serius dan formal, cobalah bermain seperti anak kecil selama lima menit. Lompat-lompat, tertawa, jangan terlalu serius. Jika kamu adalah orang yang selalu sopan dan menjaga etika, cobalah bersikap sedikit lebih santai, lebih spontan, lebih tidak formal. Rasakan bahwa kamu masih utuh, masih menjadi dirimu yang sama, meskipun peran yang kamu mainkan berbeda. Kamu tidak menjadi orang lain hanya karena bersikap berbeda.
Langkah keempat, hadapi kritik sebagai latihan spiritual. Ketika seseorang mengkritik identitas sosialmu, misalnya mengkritik pekerjaanmu, agamamu, atau pilihan hidupmu, jangan langsung bereaksi. Tarik napas dalam. Ingatkan dirimu, Dia mengkritik peran yang aku mainkan, bukan aku yang sejati. Peran ini bisa diperbaiki jika kritiknya benar. Peran ini bisa diabaikan jika kritiknya salah. Tetapi aku, sebagai kesadaran, tidak terluka. Tidak ada yang bisa melukai kesadaran. Cobalah untuk tidak membela diri. Cukup dengar, lalu lepaskan.
Langkah kelima, rasakan diri tanpa identitas setiap hari. Luangkan waktu minimal lima menit setiap hari di mana kamu tidak menjadi siapapun. Duduk diam. Lepaskan semua label. Bukan pria atau wanita, bukan kaya atau miskin, bukan sukses atau gagal, bukan karyawan atau bos, bukan orangtua atau anak, bukan dari suku atau agama apapun. Hanya kesadaran yang hadir, yang ada, yang sadar. Rasakan betapa ringan dan bebasnya diri tanpa identitas. Tidak ada yang perlu dibela, tidak ada yang perlu dibuktikan, tidak ada yang perlu ditakuti. Hanya kedamaian. Rasakan ini setiap hari, dan bawa rasa ini ke dalam aktivitasmu sehari-hari.
Kisah tokoh yang melepaskan identitas sosial tetapi tetap berfungsi di masyarakat.
Ramana Maharshi adalah contoh sempurna. Setelah beliau sadar akan jati diri pada usia enam belas tahun, beliau meninggalkan semua identitas sosial. Beliau tidak lagi menganggap dirinya sebagai anak dari keluarga tertentu, tidak lagi sebagai pelajar, tidak lagi sebagai kasta brahmana, tidak lagi sebagai warga negara. Beliau pergi ke gunung Arunachala dan tinggal di gua, tanpa identitas, tanpa harta, tanpa hubungan sosial. Namun, beliau tidak mengasingkan diri secara membabi buta. Beliau tetap tinggal di masyarakat, menerima pengunjung dari segala lapisan, dari raja hingga pengemis, dari sarjana hingga petani buta huruf. Beliau berbicara dengan semua orang, memberikan ajaran dengan penuh kasih, mengurus ashram yang berkembang di sekitarnya. Beliau tidak memiliki identitas sosial, tetapi masyarakat justru memberinya identitas sebagai guru agung, sebagai Bhagavan, sebagai Ramana Maharshi. Beliau tidak menolak identitas itu, tetapi juga tidak terikat padanya. Beliau menggunakan identitas itu sebagai alat untuk membantu orang lain, tetapi di dalam hatinya, beliau tetap sebagai kesadaran murni yang tidak bernama, tidak berbentuk, tidak terikat.
Buddha juga demikian. Siddhartha Gautama meninggalkan identitasnya sebagai pangeran, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai pewasta yang kaya raya. Ia pergi ke hutan, hidup sebagai pertapa tanpa identitas. Namun setelah pencerahan, ia kembali ke masyarakat dan mengajar selama empat puluh lima tahun. Ia menggunakan identitas sosial sebagai guru, sebagai bhikkhu, sebagai pemimpin komunitas spiritual. Ia bisa berbicara dengan raja seperti Raja Bimbisara atau Raja Pasenadi, juga bisa dengan orang terbuang seperti Sunita yang dulu adalah pemulung. Ia tidak merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Ia tahu bahwa semua identitas itu hanyalah peran dalam sandiwara kehidupan. Ia memainkan perannya dengan sempurna, tetapi tidak pernah lupa bahwa ia bukan peran itu.
Contoh sehari-hari. Seorang ibu rumah tangga yang sadar diri dapat menjalankan perannya sebagai ibu dengan penuh dedikasi, mengurus anak, memasak, membersihkan rumah. Tetapi ketika anak-anak sudah dewasa dan pergi meninggalkan rumah, ia tidak mengalami krisis identitas. Ia tidak jatuh dalam depresi karena kehilangan peran sebagai ibu. Ia tahu bahwa ia bukan hanya seorang ibu. Ia adalah kesadaran yang juga sempat memainkan peran sebagai ibu. Peran itu sudah selesai, dan ia bisa memainkan peran baru sebagai pensiunan, sebagai kakek-nenek, sebagai volunteer, atau peran apapun yang muncul. Ia tetap utuh. Seorang pensiunan yang sadar diri tidak jatuh dalam depresi setelah pensiun. Identitasnya sebagai karyawan lepas, tetapi ia tidak hancur. Ia tahu bahwa ia bukan karyawan. Ia tetap utuh dan menemukan cara baru untuk bermanfaat, tanpa terbebani oleh kehilangan status.
Kesimpulan tentang identitas sosial dan diri sejati.
Identitas sosial bagaikan gelombang di lautan. Gelombang memiliki bentuk, nama, dan ukuran yang berbeda-beda. Ada gelombang besar, gelombang kecil, gelombang ombak, gelombang pasang, gelombang tsunami. Namun semua gelombang tidak lain adalah air laut. Esensinya sama. Begitu gelombang sadar bahwa ia adalah air laut, ia tidak lagi takut pecah atau lenyap. Ia tahu bahwa apapun bentuknya, esensinya tidak berubah. Ia tahu bahwa muncul dan lenyapnya gelombang hanyalah permainan di permukaan. Di kedalaman, ia tetap sebagai lautan yang tenang dan tak terbatas.
Demikian pula dengan identitas sosial. Kamu bisa menjadi siapapun sesuai kebutuhan situasi. Kamu bisa menjadi orangtua, anak, bos, karyawan, kaya, miskin, terkenal, tidak dikenal, sehat, sakit, muda, tua, apapun. Namun di balik semua itu, kamu adalah kesadaran yang satu dan sama, yang tidak pernah berubah, tidak pernah terluka, tidak pernah mati. Identitas sosial adalah pakaian yang kamu kenakan. Pakaian itu berguna untuk melindungi tubuh dan menyesuaikan dengan acara. Tetapi jangan pernah lupa bahwa kamu bukan pakaian itu. Kamu adalah yang mengenakan pakaian. Kamu adalah aktor, bukan peran. Kamu adalah lautan, bukan gelombang.
Jangan buang identitas sosialmu. Ia berguna. Tanpanya, kamu tidak bisa berfungsi dalam masyarakat. Tetapi jangan juga terperangkap olehnya. Mainkan peranmu sebaik mungkin, dengan penuh dedikasi, dengan tanggung jawab, karena itulah dharma atau kewajibanmu. Tetapi selalu ingat di dalam hati, bahwa semua ini adalah sandiwara. Kamu adalah aktor yang sadar bahwa ia sedang bermain. Dengan cara ini, kamu bisa hidup di masyarakat, menjalankan semua peran, tetapi tetap bebas. Tidak ada yang bisa mengikatmu. Tidak ada yang bisa menyakitimu. Kamu bebas seperti langit, yang memeluk semua awan, tetapi tidak pernah terikat pada awan manapun. Itulah kebebasan sejati. Itulah pengenalan akan jati diri di tengah hiruk-pikuk identitas sosial.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Siapa aku yang sebenarnya

3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati

2. Apakah aku adalah tubuh ini