1. Siapa aku yang sebenarnya
1. Siapa aku yang sebenarnya
Pertanyaan ini adalah inti dari pencarian jati diri spiritual, bukan sekadar pertanyaan filosofis yang bisa dijawab dengan nama atau riwayat hidup. Untuk memahaminya dengan lengkap, kita akan membahas beberapa lapisan kebenaran, mulai dari yang paling kasar hingga yang paling halus.
Lapisan pertama, kamu bukan tubuh.
Tubuh fisikmu lahir pada suatu saat, terus berubah setiap hari, suatu saat akan tua, sakit, dan mati. Sel-sel tubuh berganti setiap beberapa tahun. Bentuk, berat, tinggi, kerutan, dan kekuatan otot semuanya berubah. Namun, ada sesuatu dalam dirimu yang merasakan semua perubahan itu. Perasaan bahwa aku ada, bahwa ada seseorang yang mengalami hidup dari balik mata ini, perasaan itu tetap sama sejak masa kecil hingga sekarang. Jika kamu adalah tubuh, maka setiap kali tubuh berubah, kamu harus menjadi orang yang berbeda. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Kamu masih merasa sebagai dirimu yang sama meskipun tubuhmu sudah sangat berbeda. Lebih jauh lagi, kamu bisa mengamati tubuh sebagai objek. Coba perhatikan tanganmu dari dalam. Sekarang alihkan perhatian ke rasa aku yang merasakan tangan. Ada jarak alami antara kesadaran dan tubuh. Dalam tidur nyenyak tanpa mimpi, tubuh tetap ada, tetapi rasa aku sebagai tubuh lenyap total. Namun saat bangun, kamu berkata, Aku tidur nyenyak semalam. Siapa yang mengalami ketidakhadiran tubuh itu. Bukan tubuh tentunya, karena tubuh tidak sadar sedang tertidur. Yang mengalami adalah kesadaran yang tidak terikat pada tubuh. Jadi, jelas bahwa kamu bukan tubuh. Tubuh adalah kendaraan yang kamu pakai untuk sementara, tetapi kamu bukan kendaraan itu.
Lapisan kedua, kamu bukan pikiran.
Pikiranmu berisi suara batin, kata-kata, gambar, ingatan, rencana, kekhawatiran, dan penilaian. Isi pikiran ini terus berubah setiap detik. Pikiran yang marah berganti dengan pikiran yang tenang, lalu cemas, lalu bosan, dan seterusnya. Namun, ada yang menyaksikan semua perubahan pikiran ini. Kamu bisa berkata, Pikiran saya sedang gelisah. Siapa yang mengetahui bahwa pikiran sedang gelisah. Pengetahui itu tidak ikut gelisah. Ia diam, stabil, dan terus ada meskipun isi pikiran berganti. Coba sekarang diam sejenak, tutup mata, dan amati pikiranmu seperti mengamati awan lewat di langit. Jangan terlibat, cukup lihat. Saat kamu berhasil mengamati satu pikiran muncul lalu pergi, tanyakan, Siapa yang melihat itu. Pikiran tidak bisa melihat pikiran lain secara bersamaan. Yang melihat adalah kesadaran. Jika pikiran adalah dirimu yang sejati, maka saat pikiran diam, misalnya saat hening tanpa kata-kata dalam batin, seharusnya kamu lenyap. Namun kenyataannya, saat pikiran diam justru ada kedamaian yang lebih dalam dan perasaan aku ada yang lebih jernih. Pernahkah pikiranmu tiba-tiba melompat ke kenangan buruk tanpa kamu perintahkan. Itu menunjukkan bahwa pikiran sering bekerja tanpa seizinmu. Kamu bukan pengendali pikiran, melainkan penonton yang bisa memilih untuk terlibat atau tidak. Jadi, kamu bukan pikiran. Pikiran adalah alat yang berguna untuk berpikir, tetapi alat tidak boleh disamakan dengan pengguna alat.
Lapisan ketiga, kamu bukan ego.
Ego adalah rasa identitas palsu yang terbentuk dari pengalaman, label sosial, dan cerita pribadi. Ego berkata, Aku sukses, aku gagal, aku orang baik, aku tidak berharga, aku pantas dihormati, aku harus membuktikan sesuatu. Ego tidak memiliki substansi nyata. Ia hanyalah kumpulan identifikasi yang terus menerus, seperti bungkus bawang yang jika dikupas satu per satu tidak menemukan inti padat di dalamnya. Ego berbeda dengan pikiran. Pikiran adalah proses berpikir, sedangkan ego adalah rasa aku yang melekat pada isi pikiran. Ego lahir setelah kamu lahir, dari interaksi dengan orang tua, lingkungan, dan budaya. Ia bisa berubah sepanjang hidup, bahkan bisa hilang sementara dalam pengalaman puncak atau tidur nyenyak. Ego adalah sumber penderitaan karena ia selalu merasa tidak cukup, mudah tersinggung, takut kehilangan, dan terus membandingkan diri dengan orang lain. Jika kamu adalah ego, maka setiap kali ego terluka oleh kritik, kamu harus terluka. Namun coba saat ada kritik, diamlah sejenak, rasakan ada bagian dalam dirimu yang hanya melihat kritik itu sebagai suara, tidak ikut terluka. Itu adalah dirimu yang lebih dalam dari ego.
Lapisan keempat, kamu adalah kesadaran murni.
Setelah membuang identifikasi dengan tubuh, pikiran, dan ego, apa yang tersisa. Yang tersisa bukanlah kekosongan yang mati, tetapi kehadiran yang sadar, kesadaran murni yang menjadi dasar dari semua pengalaman. Kesadaran inilah yang melihat tubuh berpikir, merasakan, dan bertindak. Ia tidak lahir, tidak mati, tidak terluka, tidak pernah berubah. Ia seperti ruang yang tidak terpengaruh oleh apa pun yang terjadi di dalamnya. Dalam ajaran Advaita Vedanta, kesadaran ini disebut Atman atau Brahman. Dalam Buddhisme, meskipun tidak disebut sebagai aku yang permanen, yang tersisa setelah lenyapnya ilusi diri adalah Buddha Alam atau kesadaran murni yang tidak terbatas. Dalam ajaran Ramana Maharshi, beliau mengajarkan Atma Vichara atau penyelidikan diri. Caranya adalah dengan duduk diam, tanyakan dalam hati, Siapa aku. Jangan cari jawaban dengan pikiran. Rasakan sumber rasa aku di dalam. Telusuri rasa aku itu ke asalnya. Semakin dalam kamu menyelidiki, rasa aku pribadi akan melebur, dan yang tersisa adalah aku aku yang sejati, yaitu kesadaran diri yang tenang, tanpa bentuk, penuh kedamaian.
Penjelasan dari sudut pandang pengalaman langsung.
Agar tidak sekadar teori, cobalah latihan sederhana ini. Duduklah dengan nyaman. Tutup mata. Tarik napas dalam beberapa kali, lalu biarkan napas alami. Sekarang, alihkan perhatianmu ke dalam. Rasakan bahwa kamu ada. Jangan pikirkan apapun tentang dirimu, jangan ingat nama, pekerjaan, atau riwayat hidup. Cukup rasakan perasaan mentah bahwa aku ada. Rasakan kehadiran sederhana itu. Jangan beri nama, jangan deskripsikan. Diamlah dalam rasa aku itu. Dalam keheningan itu, perhatikan apakah ada batas. Apakah perasaan aku itu berhenti di kulit kepalamu. Atau apakah ia seperti ruang tanpa tepi. Juga perhatikan, apakah perasaan aku itu terasa berat atau ringan, gelisah atau tenang. Dalam keheningan, tanpa cerita, rasa aku itu sebenarnya ringan, tenang, dan damai. Itulah sekilas pengalaman kesadaran murni. Semakin sering kamu melakukan ini, semakin nyata bahwa dirimu yang sejati bukanlah cerita tentang dirimu, tetapi kesadaran yang menjadi latar bagi semua cerita.
Kesimpulan dari pertanyaan Siapa aku yang sebenarnya.
Jawaban terdalam yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi bisa dirasakan, adalah bahwa kamu adalah kesadaran murni yang tidak terbatas, tidak lahir, tidak mati, tidak terluka, dan tidak pernah terpisah dari apapun. Kamu bukan tubuh yang lahir dan mati. Kamu bukan pikiran yang datang dan pergi. Kamu bukan ego yang rapuh dan selalu tidak puas. Kamu adalah ruang di mana tubuh, pikiran, dan ego muncul dan lenyap. Kamu adalah cahaya yang menerangi semua pengalaman. Mengenali ini secara langsung, bukan sekadar memahaminya dengan pikiran, adalah awal dari kebebasan sejati. Tidak perlu menunggu kapan pun, tidak perlu pergi ke mana pun. Rumahmu sudah di sini, sekarang, dalam keheningan yang sadar akan dirinya sendiri.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar
Posting Komentar