3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati

 3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati



Pertanyaan ini mengajak kamu untuk menyelidiki secara langsung apakah identitasmu yang sebenarnya sama dengan pikiran, yaitu aliran kata-kata, gambar, ingatan, rencana, dan penilaian yang terus-menerus berlangsung di dalam kepalamu. Jawaban singkatnya adalah tidak. Pikiran bukanlah dirimu yang sejati. Pikiran adalah alat yang kamu gunakan, tetapi kamu bukan alat itu. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan alasan-alasan mendasar mengapa demikian, lengkap dengan latihan-latihan praktis untuk membuktikannya sendiri.
Alasan pertama, pikiran selalu berubah sementara yang menyadari pikiran tidak berubah.
Pikiranmu hari ini sangat berbeda dengan pikiranmu sepuluh tahun yang lalu. Keyakinan, pendapat, keinginan, ketakutan, dan preferensimu semuanya berganti seiring waktu dan pengalaman. Bahkan dalam satu menit, puluhan pikiran datang dan pergi. Pikiran marah berganti menjadi pikiran tenang, lalu cemas, lalu bosan, lalu marah lagi. Namun, ada sesuatu yang menyaksikan semua perubahan ini. Kamu bisa berkata, Pikiranku sedang gelisah, atau Pikiranku sekarang tenang. Siapa yang mengetahui bahwa pikiran sedang gelisah. Pengetahui itu tidak ikut gelisah. Ia diam, stabil, dan terus ada meskipun isi pikiran berganti-ganti dengan cepat.
Coba lakukan eksperimen sederhana. Duduklah diam selama satu menit. Amati pikiran-pikiran yang lewat. Jangan terlibat, jangan ikuti, cukup lihat. Setelah satu menit, tanyakan pada dirimu, Apakah aku yang mengamati pikiran ikut berubah-ubah seperti pikiran yang diamati. Rasakan jawabannya. Pengamat yang diam itu tidak berubah. Ia tetap sama dari awal hingga akhir pengamatan. Ini bukti langsung bahwa kamu bukan pikiranmu. Kamu adalah pengamat yang diam di belakang semua perubahan pikiran.
Alasan kedua, kamu bisa mengamati pikiran sebagai objek.
Coba lakukan ini. Dalam keheningan, arahkan perhatianmu ke dalam. Perhatikan pikiran yang muncul. Mungkin ada kata-kata seperti, Aneh, disuruh memperhatikan pikiran sendiri. Atau mungkin ada gambar, kenangan, atau rencana untuk besok. Apapun yang muncul, perhatikan bahwa kamu bisa melihatnya. Kamu bisa mengatakan, Sebuah pikiran tentang pekerjaan baru saja lewat. Atau, Pikiran tentang masa lalu muncul sekarang.
Pertanyaan pentingnya adalah, jika kamu bisa melihat pikiran sebagai objek, berarti kamu bukan pikiran itu. Subjek yang melihat tidak bisa sama dengan objek yang dilihat. Jika kamu adalah pikiran, tidak akan ada jarak antara kamu dan pikiran. Kamu tidak akan bisa mengamatinya dari luar. Namun kenyataannya, kamu bisa. Kamu bisa berdiri sebagai saksi yang tenang, melihat parade pikiran lewat seperti melihat awan di langit. Ini membuktikan bahwa ada dimensi dirimu yang lebih dalam dari pikiran. Pikiran adalah objek, kesadaran adalah subjek. Kamu adalah subjek, bukan objek.
Alasan ketiga, pikiran sering bekerja tanpa seizinmu dan di luar kendalimu.
Pernahkah kamu sedang duduk dengan tenang, tiba-tiba pikiran tentang kenangan memalukan sepuluh tahun lalu melompat masuk tanpa diundang. Atau pernahkah kamu ingin tidur, tetapi pikiran justru semakin kacau memikirkan segala macam hal yang tidak penting. Atau pernahkah kamu mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, misalnya beruang putih, dan justru pikiran tentang beruang putih itu semakin kuat.
Ini menunjukkan bahwa pikiran bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada di bawah kendalimu. Ia memiliki momentumnya sendiri, kebiasaannya sendiri, programnya sendiri. Jika pikiran adalah dirimu yang sejati, kamu seharusnya bisa mematikannya kapan saja seperti mematikan lampu. Tetapi kenyataannya, bahkan para meditator berpengalaman pun membutuhkan latihan bertahun-tahun hanya untuk bisa mengamati pikiran tanpa terseret, bukan untuk mematikannya sepenuhnya. Ini bukti bahwa pikiran hanyalah fungsi biologis dan psikologis, bukan esensi dirimu. Kamu adalah kesadaran yang berada di belakang pikiran, yang bisa memilih untuk terlibat atau tidak dengan pikiran, tetapi bukan pikiran itu sendiri.
Alasan keempat, pikiran berhenti dalam tidur nyenyak, tetapi kamu tetap ada.
Setiap malam, saat kamu tidur nyenyak tanpa mimpi, pikiran berhenti total. Tidak ada kata-kata, tidak ada gambar, tidak ada rencana, tidak ada kekhawatiran, tidak ada penyesalan. Pikiran benar-benar istirahat. Namun, ketika kamu bangun di pagi hari, kamu masih merasa sebagai orang yang sama. Kamu tidak menjadi orang baru hanya karena pikiran berhenti semalam. Bahkan, kamu bisa berkata, Aku tidur nyenyak dan tidak bermimpi apapun. Siapa yang tahu bahwa tidak ada mimpi. Bukan pikiran, karena pikiran sedang berhenti. Yang tahu adalah kesadaranmu yang tetap hadir, bahkan dalam tidur nyenyak, dalam bentuk potensial.
Jika pikiran adalah dirimu yang sejati, maka setiap kali tidur nyenyak, kamu seharusnya mati atau lenyap, dan bangun sebagai orang yang berbeda. Kenyataannya tidak demikian. Ini bukti kuat bahwa dirimu yang sejati lebih dalam dari pikiran. Pikiran hanyalah lapisan permukaan. Di bawahnya ada kesadaran murni yang tidak pernah tidur, tidak pernah mati, tidak pernah berhenti. Ia selalu ada, menjadi saksi bahkan ketika tidak ada yang disaksikan.
Alasan kelima, pikiran hanyalah alat, bukan tujuan.
Pikiran sangat berguna untuk fungsi-fungsi tertentu. Tanpa pikiran, kamu tidak bisa menghitung uang belanja, tidak bisa merencanakan perjalanan, tidak bisa menulis pesan ini, tidak bisa memecahkan masalah matematika. Pikiran adalah alat yang luar biasa, seperti komputer yang canggih. Namun, alat tidak boleh disamakan dengan pengguna alat. Komputer tidak akan menyala tanpa listrik. Pikiran tidak akan berfungsi tanpa kesadaran yang menghidupinya. Kesadaran adalah listriknya, pikiran adalah komputernya. Kamu adalah kesadaran, bukan komputer.
Masalah muncul ketika manusia terjebak mengidentifikasi diri sebagai isi pikiran. Aku orang gagal, Aku tidak berharga, Aku lebih pintar dari dia, Aku seharusnya tidak melakukan itu. Semua itu hanyalah cerita yang dibuat oleh pikiran, belum tentu kebenaran mutlak. Cerita-cerita ini bisa berubah sewaktu-waktu. Orang yang hari ini berkata aku gagal, minggu depan bisa berkata aku sukses hanya karena mendapat promosi. Apakah dirinya berubah. Tidak. Yang berubah hanyalah cerita tentang dirinya. Dirimu yang sejati tidak terluka oleh kritik, tidak butuh pujian, tidak takut ditolak, karena semua itu hanya terjadi di level pikiran, bukan di level kesadaran sejati.
Perbedaan antara pikiran dan kesadaran dalam pengalaman langsung.
Untuk memperjelas perbedaan ini, coba lakukan latihan berikut. Duduklah dengan nyaman. Tutup mata. Rasakan napas masuk dan keluar. Setelah beberapa saat, perhatikan bahwa ada dua lapisan dalam pengalamanmu. Lapisan pertama adalah isi pikiran, yaitu kata-kata, gambar, suara batin, dan segala sesuatu yang muncul dan lenyap. Lapisan kedua adalah kesadaran yang melihat semua itu, ruang diam yang menjadi latar bagi semua kemunculan dan kelenyapan.
Pikiran seperti gelombang di permukaan laut. Ia datang dan pergi, besar dan kecil, kuat dan lemah. Kesadaran seperti lautan itu sendiri. Di kedalaman lautan, gelombang permukaan tidak terasa. Kamu bisa terombang-ambing di permukaan, atau kamu bisa menyelam ke kedalaman. Dalam kedalaman, ada kedamaian yang tidak terganggu oleh apapun yang terjadi di permukaan.
Contoh konkret dalam kehidupan sehari hari untuk membedakan pikiran dan kesadaran.
Contoh saat marah. Ketika kemarahan meledak, pikiran berkata, Aku marah, ini salah dia, dia sengaja menjatuhkanku. Pikiran menciptakan cerita tentang siapa bersalah, tentang ketidakadilan, tentang masa lalu dan masa depan. Namun jika kamu diam sejenak di tengah kemarahan, kamu bisa merasakan ada bagian dalam dirimu yang hanya melihat kemarahan itu. Bagian itu tidak marah. Ia diam, tenang, menyaksikan tubuh yang tegang, napas yang cepat, dan pikiran yang kacau. Itulah kesadaran. Semakin kamu mengenali kesadaran ini, kemarahan tidak lagi menguasaimu. Ia datang, tetapi tidak menghancurkan. Ia pergi, tanpa meninggalkan bekas.
Contoh saat cemas. Pikiran melompat ke masa depan, membayangkan skenario terburuk, besok mungkin dipecat, mungkin sakit, mungkin ditinggalkan. Kecemasan muncul. Namun di balik semua itu, ada kesadaran yang melihat kecemasan. Kesadaran itu sendiri tidak cemas. Ia tenang. Jika kamu bisa berdiam sebagai kesadaran, kecemasan tidak hilang seketika, tetapi ia kehilangan pijakannya. Ia tidak lagi dianggap sebagai kebenaran mutlak, hanya sebagai gelombang yang lewat.
Contoh saat bahagia. Pikiran berkata, Ini luar biasa, aku orang paling beruntung, semoga ini berlangsung selamanya. Kebahagiaan berdasarkan pikiran ini rapuh karena ia takut kehilangan. Namun jika kamu berdiri sebagai kesadaran, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kedamaian yang tidak tergantung pada apapun. Ia tidak naik turun. Ia tetap. Ini bukan berarti kamu tidak boleh merasakan kebahagiaan duniawi. Kamu boleh, tetapi kamu tidak lagi terikat padanya. Kamu bebas.
Apa bahaya jika kamu meyakini bahwa aku adalah pikiranku.
Jika kamu sangat yakin bahwa dirimu sama dengan pikiranmu, maka hidupmu akan penuh dengan berbagai bentuk penderitaan. Pertama, kamu akan hidup dalam kecemasan terus-menerus karena pikiran cenderung fokus ke masa depan yang tidak pasti. Kedua, kamu akan terjebak dalam depresi karena pikiran suka mengulang masa lalu yang tidak bisa diubah. Ketiga, kamu akan mudah tersinggung karena komentar orang langsung dianggap sebagai serangan pada dirimu. Keempat, kamu tidak akan pernah merasa damai karena pikiran selalu mencari sesuatu, pujian, pengakuan, jawaban, atau hiburan. Kelima, kamu akan merasa tidak utuh karena pikiran selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, dan perbandingan itu tidak pernah berakhir. Keenam, kamu akan takut pada kesendirian karena tanpa orang lain, pikiran kehilangan objek untuk dibicarakan, dan ia merasa kosong. Ketujuh, kamu akan sulit tidur karena pikiran tidak mau diam. Kedelapan, kamu akan menjadi budak dari kebiasaan dan program pikiran yang tidak kamu sadari, seperti program mengkritik diri, program membandingkan, program mengkhawatirkan, dan program menyenangkan orang lain.
Apa kebebasan jika kamu mengenali bahwa aku bukan pikiranku.
Sebaliknya, ketika kamu mulai mengenali bahwa dirimu yang sejati adalah kesadaran yang melihat pikiran, banyak kebebasan muncul. Pertama, kamu bisa melihat pikiran negatif muncul tanpa ikut terseret ke dalamnya. Seperti duduk di tepi jalan melihat truk sampah lewat, kamu tidak ikut masuk ke dalam truk. Kedua, kedamaianmu tidak lagi tergantung pada apakah pikiran tenang atau kacau. Kedamaian adalah sifat alami dari kesadaran yang menyaksikan, sama seperti langit tetap biru meskipun awan gelap lewat. Ketiga, kamu bisa menggunakan pikiran dengan lebih efektif karena kamu tidak lagi dimakan oleh pikirannya sendiri. Pikiran menjadi alat yang tajam dan jernih, seperti pisau yang tidak berkarat karena tidak dibiarkan terendam air. Keempat, kamu tidak akan mudah tersinggung karena kamu tahu bahwa kritik hanya mengenai pikiran dan identitas palsu, bukan dirimu yang sejati. Kelima, kamu tidak akan takut mati karena kamu tahu bahwa pikiran mati bersama tubuh, tetapi kesadaran yang menjadi dirimu tidak mati. Keenam, kamu bisa menikmati keheningan tanpa gelisah. Diam tidak lagi menakutkan karena di dalam keheningan, kamu menemukan rumahmu yang sebenarnya.
Bagaimana cara merasakan langsung bahwa kamu bukan pikiran.
Jangan hanya percaya pada penjelasan di atas. Rasakan sendiri dengan latihan-latihan sederhana ini.
Latihan satu, duduklah dengan nyaman. Tutup mata. Diam-diam di dalam, ucapkan kata Aku. Lalu hening. Setelah jeda, ucapkan Aku lagi. Perhatikan jeda di antara dua Aku itu. Dalam jeda itu, tidak ada kata-kata, tidak ada pikiran, tetapi ada kehadiran yang sadar. Siapa yang menyadari jeda itu. Bukan pikiran, karena pikiran sedang diam. Itulah kesadaranmu. Semakin sering kamu menyelami jeda di antara dua pikiran, semakin nyata bahwa dirimu yang sejati adalah keheningan, bukan kata-kata dalam kepala.
Latihan dua, amati pikiran seperti mengamati lalu lintas. Duduklah di tempat yang tenang. Tutup mata. Biarkan pikiran muncul dan pergi dengan sendirinya. Jangan ikuti, jangan lawan. Bayangkan kamu duduk di jembatan penyeberangan, melihat mobil-mobil lewat di bawah. Mobil-mobil itu adalah pikiran. Kamu tidak perlu naik ke setiap mobil. Cukup lihat. Lakukan ini selama lima menit setiap hari. Dalam latihan ini, perlahan kamu akan merasakan bahwa ada dirimu yang duduk diam di jembatan, dan ada pikiran yang lewat. Kamu bukan pikiran yang lewat.
Latihan tiga, gunakan pertanyaan kepada siapa. Setiap kali pikiran muncul, terutama pikiran yang mengganggu, tanyakan dalam hati, Kepada siapa pikiran ini muncul. Jawabannya adalah Kepadaku. Lalu tanyakan, Siapa aku ini. Jangan jawab dengan nama atau peran. Rasakan rasa aku yang menjadi penerima semua pikiran. Diamkan rasa aku itu. Dalam keheningan itu, pikiran kehilangan energinya. Yang tersisa adalah kesadaran yang tenang.
Latihan empat, cari yang tidak berubah di tengah perubahan pikiran. Perhatikan bahwa pikiran terus berubah. Sekarang cari sesuatu dalam dirimu yang tidak ikut berubah. Mungkin rasanya seperti kehadiran yang konstan, seperti ruang yang selalu ada meskipun isinya berganti. Itulah kesadaran. Diamkan diri sebagai kesadaran itu, bukan sebagai pikiran.
Kesimpulan tentang apakah pikiran adalah diriku yang sejati.
Pikiran adalah alat yang luar biasa, tetapi jika kamu menyamakan dirimu dengan pikiran, maka kamu akan menderita karena alat itu tidak pernah diam, selalu berubah, sering tidak logis, dan tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Pikiran adalah pelayan yang baik tetapi tuan yang buruk. Dirimu yang sejati bukanlah pelayan, juga bukan tuan. Dirimu yang sejati adalah kesadaran yang melihat pikiran, sama seperti langit yang melihat awan. Awan datang dan pergi, badai datang dan pergi, langit tetap bersih tanpa tergores, tanpa terluka, tanpa berubah. Kamu adalah langit, bukan awan. Kamu adalah kesadaran, bukan pikiran.
Ketika kamu benar-benar merasakan ini, bukan hanya memahaminya secara intelektual, maka pikiran tidak lagi menjadi musuh. Ia bisa digunakan dengan ringan, tanpa beban, tanpa penderitaan. Kamu bisa berpikir ketika perlu, dan diam ketika tidak perlu berpikir. Kamu bebas. Dan kebebasan itu sudah menjadi sifat alami dirimu, hanya saja selama ini tertutup oleh keributan pikiran yang kamu anggap sebagai dirimu. Sekarang, buka mata hatimu. Lihatlah. Kamu bukan pikiran. Kamu adalah kesadaran yang membaca kata-kata ini, yang melihat, yang tahu, yang ada. Itulah dirimu. Selamanya. Tidak berubah. Tenang. Damai.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Siapa aku yang sebenarnya

2. Apakah aku adalah tubuh ini