2. Apakah aku adalah tubuh ini

 2. Apakah aku adalah tubuh ini



Pertanyaan ini mengajak kamu untuk menyelidiki secara langsung apakah identitasmu yang sebenarnya sama dengan tubuh fisik yang kamu huni. Jawaban singkatnya adalah tidak. Kamu bukan tubuh. Tubuh adalah sesuatu yang kamu miliki dan alami, tetapi kamu bukan tubuh itu. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan alasan-alasan mendasar mengapa demikian, baik dari sudut pandang pengalaman sehari-hari, logika sederhana, hingga pengalaman spiritual yang mendalam.

Alasan pertama, tubuh selalu berubah sementara rasa aku ada terasa terus-menerus.
Tubuh fisikmu saat ini berbeda total dengan tubuhmu saat masih bayi, saat remaja, atau bahkan saat sepuluh tahun yang lalu. Sel-sel tubuh berganti secara teratur. Bentuk wajah berubah, rambut menipis atau memutih, tinggi badan tidak lagi bertambah, berat badan naik turun, kekuatan otot melemah seiring usia. Namun, perasaan bahwa aku ada, bahwa ada seseorang yang mengalami hidup dari balik mata ini, bahwa ada kesadaran yang merasakan setiap perubahan itu, perasaan itu tetap sama dari masa kecil hingga sekarang. Yang berubah adalah penampilan dan kemampuan tubuh, tetapi yang merasakan perubahan tidak ikut berubah. Coba ingat saat kamu berusia lima tahun. Apakah perasaan bahwa kamu ada, bahwa kamulah yang mengalami masa kecil itu, terasa berbeda dengan perasaan bahwa kamu ada sekarang. Di balik semua ingatan dan perubahan, ada rasa aku yang kontinu, yang tidak berubah. Jika kamu adalah tubuh, maka setiap kali tubuh berubah secara signifikan, kamu harus menjadi orang yang berbeda. Kenyataannya tidak demikian.
Alasan kedua, kamu bisa mengamati tubuh sebagai objek.
Coba sekarang alihkan perhatianmu ke tangan kananmu. Rasakan sensasi di tangan itu dari dalam. Mungkin terasa hangat, dingin, atau kesemutan. Sekarang, coba alihkan perhatian ke rasa aku yang merasakan tangan itu. Rasakan bahwa ada jarak alami antara kesadaran yang merasakan dan tubuh yang dirasakan. Kamu adalah subjek yang mengalami, tubuh adalah objek yang dialami. Dalam pengalaman langsung, tubuh selalu menjadi objek dari kesadaran, bukan subjek itu sendiri. Saat tubuh sakit, ada yang mengetahui rasa sakit itu. Saat tubuh sehat, ada yang mengetahui rasa sehat itu. Pengetahui ini bukanlah tubuh yang sakit atau sehat, karena tubuh yang sakit tidak bisa sekaligus menjadi subjek yang mengetahui rasa sakit. Pengetahui ini adalah kesadaran, dan kesadaran itulah yang lebih mendekati dirimu yang sejati daripada tubuh. Kamu bisa mengatakan tanganku sakit, artinya ada aku yang memiliki tangan yang sedang sakit. Pemilik tidak sama dengan benda yang dimiliki.
Alasan ketiga, dalam tidur nyenyak tanpa mimpi, tubuh tetap ada tetapi rasa aku sebagai tubuh lenyap.
Setiap malam, saat kamu tidur nyenyak dan tidak bermimpi, kesadaran akan tubuh menghilang total. Kamu tidak merasa punya tangan, tidak merasa bernapas, tidak merasa ada berat badan, tidak merasa memiliki bentuk apapun. Tubuh fisikmu tetap terbaring di tempat tidur, tetapi kamu tidak menyadarinya sama sekali. Namun, ketika bangun di pagi hari, kamu berkata, Aku tidur nyenyak semalam. Siapa yang tahu bahwa kamu tidur nyenyak. Bukan tubuh, karena tubuh tidak sadar sedang tertidur. Bukan pikiran, karena pikiran juga tidak berfungsi dalam tidur nyenyak. Yang tahu adalah kesadaran murni yang hadir bahkan tanpa objek. Kesadaran ini tetap eksis meskipun tidak ada pengalaman akan tubuh. Ini bukti kuat bahwa dirimu yang sejati tidak tergantung pada tubuh. Tubuh bisa tidak disadari sama sekali, tetapi kesadaranmu tetap ada, setidaknya dalam bentuk potensi atau residu yang memungkinkanmu berkata aku tidur nyenyak setelah bangun. Jika kamu adalah tubuh, maka saat tidur nyenyak seharusnya kamu benar-benar mati atau lenyap, tetapi kenyataannya tidak.
Alasan keempat, kamu bisa membayangkan atau mengalami diri di luar batas tubuh.
Meskipun tidak umum, banyak praktisi meditasi mendalam atau orang yang mengalami pengalaman mendekati kematian melaporkan bahwa mereka merasakan kesadaran mereka berada di luar batas fisik. Mereka melihat tubuh mereka dari atas, mendengar percakapan di ruangan lain tanpa menggunakan telinga fisik, atau bergerak di alam yang tidak bersifat material. Secara ilmiah, pengalaman ini disebut sebagai bukti anekdotal, tetapi secara subjektif bagi yang mengalaminya, itu adalah bukti langsung bahwa rasa aku dapat beroperasi tanpa bergantung pada indra dan tubuh. Bahkan tanpa pengalaman ekstrem itu, coba lakukan latihan sederhana. Pejamkan mata. Rasakan ruang di sekitar kepalamu. Sekarang rasakan ruang di depannya, di sampingnya, di belakangnya. Apakah kesadaranmu berhenti di batas kulit kepala. Atau apakah kesadaran seperti ruang yang tidak punya tepi. Rasakan. Kesadaran tidak terbatas pada titik di belakang mata. Ia seperti langit yang melingkupi segala sesuatu.
Alasan kelima, secara ilmiah, kesadaran tidak dapat ditemukan di dalam tubuh.
Ilmu pengetahuan belum pernah menemukan di mana letak kesadaran di dalam otak. Mereka menemukan korelasi antara aktivitas otak dan pengalaman sadar, tetapi tidak menemukan substansi kesadaran itu sendiri. Otak seperti televisi, dan kesadaran seperti sinyal yang ditayangkan. Matikan televisi, sinyalnya tidak mati, ia masih ada di udara. Rusak televisi, sinyalnya tetap ada meskipun tidak bisa ditampilkan. Demikian pula, mati atau rusaknya tubuh tidak serta merta membuktikan lenyapnya kesadaran. Secara pengalaman langsung, yang kamu tahu hanyalah bahwa selama tubuh berfungsi, kesadaran tampak melaluinya. Kamu tidak pernah mengalami tidak adanya kesadaran. Bahkan saat pingsan atau tidur nyenyak, kamu baru tahu bahwa kamu pingsan atau tidur nyenyak setelah bangun. Selama peristiwa itu, tidak ada ketidaksadaran yang kamu alami, karena untuk mengalami sesuatu, kamu harus sadar.
Apa konsekuensi jika kamu meyakini bahwa aku adalah tubuh.
Jika kamu sangat yakin bahwa dirimu sama dengan tubuh, maka hidupmu akan diwarnai oleh berbagai bentuk penderitaan. Pertama, ketakutan akan kematian yang luar biasa. Jika tubuh mati dan kamu adalah tubuh, maka kamu mati total. Tidak ada harapan, tidak ada kelanjutan. Ketakutan ini bisa menghantui setiap saat. Kedua, penderitaan saat tubuh sakit, menua, atau tidak ideal. Setiap kerutan, setiap uban, setiap rasa sakit akan terasa sebagai serangan pada dirimu. Kamu akan terus menerus melawan proses alamiah penuaan dan penyakit, yang sebenarnya tidak bisa dihindari. Ketiga, hidup hanya untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan tubuh. Makan enak, seks, kenyamanan fisik, penampilan menarik menjadi tujuan utama hidup. Kamu akan sibuk mengejar kepuasan indra yang sifatnya sementara, dan setelah puas, kamu akan mengejar lagi, tidak pernah puas. Keempat, perasaan terpisah dari alam semesta. Tubuh adalah benda padat yang terisolasi. Kamu merasa sendirian di alam semesta yang luas dan acuh tak acuh. Kelima, ketakutan akan kehilangan fungsi tubuh. Takut buta, takut tuli, takut lumpuh, karena semua itu dianggap sebagai kehilangan sebagian dari diri.
Apa konsekuensi jika kamu mengenali bahwa aku bukan tubuh.
Sebaliknya, ketika kamu mulai mengenali bahwa dirimu yang sejati adalah kesadaran yang menggunakan tubuh, bukan tubuh itu sendiri, banyak kebebasan muncul. Pertama, kematian tubuh dipahami seperti melepas baju yang sudah usang. Tidak ada ketakutan mendasar. Kamu tetap tenang karena yang sejati tidak pernah mati. Kedua, saat tubuh sakit atau menua, ada kedamaian di balik rasa sakit. Kamu bisa merasakan sakit tanpa harus menderita secara psikologis. Sakit fisik tetap tidak nyaman, tetapi tidak ada tambahan penderitaan berupa ketakutan, penolakan, atau ratapan. Ketiga, kebebasan untuk merawat tubuh dengan penuh kasih tanpa obsesi. Kamu tetap menjaga kesehatan, berolahraga, makan bergizi, tetapi tidak panik jika tubuh tidak sempurna. Kamu tidak membenci tubuh karena tidak sesuai standar kecantikan. Keempat, muncul rasa keterhubungan dengan semua makhluk. Karena kesadaran sejati tidak punya batas fisik, kamu merasakan bahwa kesadaran yang sama ada pada semua makhluk. Rasa terpisah berkurang, dan cinta kasih alami muncul. Kelima, kamu bisa menikmati hidup lebih dalam. Tubuh menjadi alat untuk mengalami dunia, bukan beban yang harus dilindungi dan dipuaskan terus menerus.
Peringatan penting agar tidak salah paham.
Mengatakan aku bukan tubuh bukan berarti mengabaikan, menyiksa, atau merusak tubuh. Tubuh adalah kendaraan kesadaran di dunia fisik. Ia harus dirawat, didengarkan, dihormati, dan dijaga kesehatannya. Sama seperti pengemudi bukan mobilnya, tetapi pengemudi yang baik tetap merawat mobilnya dengan penuh perhatian, mengisi bahan bakar, mengganti oli, dan membawanya dengan aman. Tanpa tubuh, kesadaran tidak bisa berinteraksi dengan dunia fisik. Tubuh adalah alat yang luar biasa, hadiah dari alam semesta. Hargai ia, cintai ia, tetapi jangan pernah lupa bahwa engkau bukan ia. Engkau adalah kesadaran yang hidup di balik mata ini, yang melihat, yang merasakan, yang tahu. Engkau adalah pengemudi, bukan mobil.
Cara merasakan langsung bahwa kamu bukan tubuh.
Jangan hanya percaya pada penjelasan di atas. Rasakan sendiri dengan latihan sederhana ini. Duduklah di kursi dengan punggung tegak. Tutup mata. Tarik napas dalam dan hembuskan perlahan. Sekarang, rasakan seluruh tubuhmu dari dalam. Rasakan dingin atau hangat di ujung jari, rasakan tekanan pantat di kursi, rasakan aliran napas di lubang hidung. Setelah beberapa saat, tanyakan dalam hati, Siapa yang merasakan semua sensasi ini. Jangan jawab dengan kata-kata. Cukup rasakan keheningan di belakang semua sensasi. Diamlah di sana beberapa menit. Perlahan, akan terasa bahwa kamu bukanlah sensasi-sensasi yang berubah-ubah itu, bukan juga tubuh yang merasakannya. Kamu adalah ruang kesadaran tempat semua sensasi tubuh muncul dan lenyap. Dalam pengalaman itu, tubuh terasa seperti objek di dalam kesadaran, bukan sebagai dirimu. Semakin sering kamu melakukan ini, semakin nyata bahwa engkau bukan tubuh, dan semakin bebas engkau dari segala penderitaan yang berasal dari identifikasi berlebihan dengan tubuh.
Kesimpulan tentang apakah aku adalah tubuh ini.
Dengan semua alasan di atas, baik dari pengalaman langsung, logika sederhana, pengalaman spiritual, maupun perbandingan konsekuensi, jelas bahwa kamu bukan tubuh. Tubuh adalah pakaian sementara yang dikenakan oleh kesadaran selama berada di dunia fisik. Kamu adalah kesadaran itu sendiri. Tubuh lahir, tumbuh, tua, sakit, dan mati. Kesadaran tidak pernah lahir, tidak pernah mati, tidak pernah sakit, tidak pernah terluka. Tubuh terbatas oleh ruang dan waktu. Kesadaran tidak terbatas. Tubuh adalah milikmu, tetapi kamulah pemiliknya, bukan milik itu sendiri. Kenali ini, bukan sebagai keyakinan, tetapi sebagai pengalaman langsung dalam keheningan, maka engkau akan menemukan kedamaian yang tidak tergoyahkan oleh apapun yang terjadi pada tubuh.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Siapa aku yang sebenarnya

3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati