6. Apa yang dimaksud dengan kesadaran sejati
6. Apa yang dimaksud dengan kesadaran sejati
Pertanyaan ini mengajak kita untuk mengenali esensi paling dasar dari diri kita, yaitu kesadaran yang menjadi fondasi dari semua pengalaman. Jawaban singkatnya, kesadaran sejati adalah dirimu yang paling dasar sebelum semua pengalaman, sebelum semua pikiran, sebelum semua perasaan, dan sebelum semua identitas. Ia bukan sesuatu yang bisa diraih karena ia sudah menjadi dirimu sekarang juga. Ia adalah kehadiran murni yang menyadari bahwa kamu sedang membaca kata-kata ini. Penjelasan di bawah ini akan mengupas kesadaran sejati dari berbagai sudut pandang, disertai latihan-latihan praktis untuk merasakannya secara langsung.
Definisi sederhana dan nama-nama kesadaran sejati dalam berbagai tradisi.
Kesadaran sejati memiliki banyak nama tergantung tradisi dan bahasa yang digunakan. Dalam Hindu, ia disebut Brahman atau Atman. Dalam Buddhisme, ia disebut Buddha Alam, Dharmakaya, atau Citta. Dalam Sufisme Islam, ia disebut Ruh. Dalam Kristen mistis, ia disebut Kerajaan Allah di dalam diri. Dalam Taoisme, ia disebut Tao yang tidak bisa dinamai. Namun nama tidak penting. Yang penting adalah pengalaman langsung. Secara sederhana, kesadaran sejati adalah kemampuan untuk menyadari. Jika kamu dapat berkata, Saya sadar bahwa saya sedang marah, maka yang sadar itu adalah kesadaran. Jika kamu dapat berkata, Saya sadar bahwa saya sedang berpikir, maka yang sadar itu adalah kesadaran. Ia tidak marah karena yang marah adalah tubuh dan pikiran. Ia tidak berpikir karena yang berpikir adalah pikiran. Ia hanyalah ruang tempat semua itu terjadi. Ia adalah mata yang melihat, bukan benda yang dilihat. Ia adalah telinga yang mendengar, bukan suara yang didengar. Ia adalah subjek yang mengalami, bukan objek yang dialami.
Perbedaan mendasar antara kesadaran sejati dan isi kesadaran.
Ini adalah poin paling penting dan paling sering disalahpahami. Kebanyakan orang mengira kesadaran adalah pikiran, perasaan, atau pengalaman indra. Padahal itu adalah isi kesadaran, bukan kesadaran itu sendiri. Analogi paling sederhana adalah layar bioskop versus film. Film bergerak, penuh ledakan, tangisan, tawa, dan kejutan. Namun layar tempat film diputar tidak pernah bergerak, tidak ikut meledak, tidak ikut menangis atau tertawa. Layar tetap diam, bersih, dan tidak terpengaruh apapun yang terjadi di film. Isi kesadaran adalah filmnya. Pikiran marah, pikiran senang, rasa sakit di kaki, suara klakson di jalan, semua itu adalah film. Kesadaran sejati adalah layarnya. Ia tidak pernah ikut ke dalam film. Ia hanya memungkinkan film terjadi. Jika kamu hanya mengenal film dan tidak pernah menyadari layar, maka kamu akan terseret naik turun mengikuti alur cerita film. Kamu akan tertawa saat film lucu, menangis saat film sedih, tegang saat film menegangkan. Tetapi begitu kamu menyadari layar, maka apapun yang terjadi di film, kamu tahu itu hanya film, bukan dirimu. Kamu bisa menikmati film tanpa terperangkap di dalamnya. Inilah perbedaan antara terjebak dalam isi kesadaran versus mengenali kesadaran sejati.
Sifat-sifat kesadaran sejati.
Kesadaran sejati memiliki beberapa sifat penting yang membedakannya dari segala sesuatu yang lain. Pertama, ia tidak memiliki bentuk. Kamu tidak bisa melihat kesadaran dengan mata karena mata hanya melihat bentuk dan warna. Kesadaran tidak berwarna, tidak bundar, tidak besar, tidak kecil. Namun semua bentuk, warna, dan ukuran muncul di dalamnya. Kedua, ia tidak memiliki kualitas. Ia tidak baik atau buruk, tidak bahagia atau sedih, tidak tenang atau gelisah. Kualitas seperti bahagia atau gelisah adalah isi kesadaran yang datang dan pergi. Kesadaran itu sendiri netral dan murni, seperti air jernih yang tidak berasa. Ketiga, ia tidak pernah berubah. Pikiran berubah, perasaan berubah, tubuh berubah, dunia di sekitarmu berubah. Namun yang menyadari semua perubahan itu tidak ikut berubah. Ia tetap sama seperti saat kamu bayi, seperti saat kamu tua nanti. Keempat, ia selalu hadir sekarang. Ia tidak pernah di masa lalu atau masa depan. Kesadaran hanya ada di saat ini. Karena itu, untuk mengenalnya, kamu tidak perlu pergi ke mana pun atau menunggu kapan lain. Cukup diam sejenak dan rasakan kehadirannya yang sudah selalu ada. Kelima, ia tidak bisa diobjektifikasi. Kamu tidak bisa menjadikan kesadaran sebagai objek yang kamu lihat dari luar, karena kamulah kesadaran itu sendiri. Sama seperti mata tidak bisa melihat dirinya sendiri tanpa cermin, tetapi mata tetap melihat. Cara mengenal kesadaran bukan dengan melihatnya sebagai objek, tetapi dengan menjadi sadar akan kesadaran itu sendiri dalam keheningan.
Perbedaan antara kesadaran sejati dan kesadaran sehari-hari.
Kesadaran sehari-hari yang kita kenal selalu disertai objek. Contohnya, saya sadar ada suara burung, saya sadar kaki saya gatal, saya sadar saya sedang cemas. Dalam kesadaran sehari-hari, selalu ada sesuatu yang disadari, plus perasaan aku yang menyadari. Kesadaran sejati adalah saat perhatian berbalik ke dalam dan menyadari kesadaran itu sendiri tanpa objek. Saat itu, tidak ada saya sadar akan sesuatu. Yang ada hanya kesadaran murni tanpa objek, seperti langit cerah tanpa awan. Dalam tradisi yoga, keadaan ini disebut Asamprajnata Samadhi atau kesadaran tanpa biji. Dalam Buddhisme, disebut Sunyata atau kekosongan yang penuh. Ini bukanlah kekosongan yang mati atau tidak ada. Ini adalah kepenuhan yang tak terdefinisi, potensi murni dari mana segala sesuatu muncul. Seperti ruang yang kosong tetapi memungkinkan semua benda ada. Seperti diam yang tidak bersuara tetapi memungkinkan semua suara ada. Mengenal kesadaran sejati berarti mengalami dimensi ini, setidaknya sesaat, dalam keheningan batin.
Kesadaran sejati bukanlah pengalaman puncak.
Perlu dibedakan antara pengalaman puncak dan kesadaran sejati. Pengalaman puncak misalnya merasa menyatu dengan alam, melihat cahaya terang, merasakan kebahagiaan luar biasa, atau mendapat wawasan besar. Pengalaman ini datang dan pergi. Bisa berlangsung beberapa detik hingga beberapa jam. Mereka adalah pengalaman yang istimewa, tetapi tetap merupakan objek dalam kesadaran. Kesadaran sejati bukanlah pengalaman yang datang dan pergi. Ia adalah latar belakang semua pengalaman, termasuk pengalaman puncak sekalipun. Pengalaman puncak adalah awan indah yang lewat di langit. Kesadaran sejati adalah langit itu sendiri. Jangan terjebak mengejar pengalaman puncak. Banyak pencari spiritual menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengulang pengalaman puncak, padahal itu hanya awan. Yang harus dikenali adalah langit yang selalu ada, bahkan saat tidak ada awan indah sekalipun. Langit tidak perlu dicari. Ia sudah selalu di sini, menjadi latar bagi segala sesuatu, termasuk pencarian itu sendiri. Mengenal kesadaran sejati adalah mengenali langit, bukan mengejar awan.
Analogi untuk memahami kesadaran sejati.
Beberapa analogi dapat membantu pemahaman, meskipun analogi tetaplah analogi, bukan kebenaran itu sendiri.
Analogi ruang. Ruang di dalam kamarmu tidak terganggu oleh meja, kursi, atau lemari yang ada di dalamnya. Meja bisa pindah, kursi bisa rusak, lemari bisa lapuk, tetapi ruang tetap bersih, tidak terpengaruh. Kesadaran sejati adalah ruang di mana pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh muncul dan lenyap. Ia tidak pernah terganggu oleh apapun yang muncul di dalamnya.
Analogi matahari dan awan. Matahari selalu bersinar terang di balik awan. Awan datang dan pergi, terkadang menutupi matahari, tetapi sinar matahari tidak pernah padam. Kesadaran sejati adalah matahari yang selalu bersinar. Awan adalah pikiran dan emosi yang sesekali menutupinya. Saat awan menebal, kita lupa ada matahari di baliknya, tetapi matahari tetap ada.
Analogi cermin. Cermin memantulkan berbagai wajah, wajah cantik, wajah jelek, wajah marah, wajah tersenyum. Namun cermin itu sendiri tidak menjadi cantik, jelek, marah, atau tersenyum. Ia tetap bersih, tidak pernah tergores oleh pantulan apapun. Kesadaran sejati adalah cermin. Pikiran, perasaan, dan pengalaman adalah pantulan. Jangan samakan dirimu dengan pantulan. Pantulan datang dan pergi, cermin tetap ada.
Analogi lautan dan gelombang. Gelombang adalah gerakan di permukaan lautan. Ia datang dan pergi, besar dan kecil, kuat dan lemah. Namun gelombang tidak lain adalah air laut. Di bawah gelombang, lautan tetap tenang dan dalam. Kesadaran sejati adalah lautan. Pikiran dan emosi adalah gelombang. Kamu bisa terombang-ambing di permukaan, atau kamu bisa menyelam ke kedalaman yang tenang. Di kedalaman itu, gelombang permukaan tidak terasa.
Cara merasakan kesadaran sejati secara langsung, bukan hanya memahaminya.
Teori tanpa praktik hanya akan menjadi pengetahuan konseptual. Berikut adalah latihan-latihan sederhana untuk merasakan kesadaran sejati.
Latihan satu, duduk diam. Duduklah dengan nyaman, punggung tegak, tangan di pangkuan. Tutup mata. Jangan lakukan apapun. Jangan mengatur napas, jangan mengulang mantra, jangan memvisualisasikan apapun. Cukup diam. Perhatikan bahwa meskipun kamu tidak melakukan apapun, ada kehadiran yang sadar. Ada sesuatu yang tahu bahwa kamu sedang duduk diam. Itu bukan pikiran, karena pikiran sedang diam atau setidaknya tidak aktif. Itu bukan tubuh, karena tubuh tidak sadar dengan sendirinya. Itulah kesadaran sejati dalam bentuk paling sederhana. Diamlah sebagai kesadaran itu. Jangan beri nama, jangan deskripsikan, jangan analisis. Cukup rasakan.
Latihan dua, alihkan perhatian dari suara ke yang mendengar. Duduk diam. Dengarkan suara apapun yang ada di sekitarmu, suara kipas angin, suara lalu lintas, suara burung. Jangan beri label pada suara itu. Jangan katakan ini suara mengganggu atau ini suara menyenangkan. Cukup dengar tanpa cerita. Sekarang, alihkan perhatian dari suara ke yang mendengar. Bukan telinga, karena telinga hanya alat. Bukan pikiran, karena pikiran sedang diam. Yang mendengar adalah kesadaran. Rasakan kehadiran yang diam itu, yang menjadi latar bagi semua suara. Rasakan bahwa suara muncul dan lenyap dalam kesadaran, tetapi kesadaran tidak muncul dan lenyap. Ia tetap ada. Diamlah sebagai kesadaran yang mendengar.
Latihan tiga, rasakan rasa tubuh sebagai objek. Saat ada rasa di tubuh, misalnya gatal di punggung atau dingin di kaki, jangan segera bergerak atau menggaruk. Rasakan rasa itu tanpa melawan, tanpa memberi cerita. Sekarang, cari siapa yang merasakan rasa itu. Bukan saraf, karena saraf hanya menghantarkan sinyal. Bukan otak, karena otak adalah jaringan fisik. Yang merasakan adalah kesadaran. Rasakan perbedaan antara rasa yang berubah-ubah dan kesadaran yang diam melihatnya. Diamlah sebagai kesadaran, bukan sebagai tubuh yang merasa gatal.
Latihan empat, sadari jeda di antara pikiran. Perhatikan aliran pikiranmu. Di antara dua pikiran, ada jeda kecil. Jeda itu bisa sepersekian detik, tetapi ia ada. Dalam jeda itu, tidak ada kata-kata, tidak ada gambar, tidak ada konsep. Yang ada hanya keheningan yang sadar. Rasakan keheningan itu. Perluas jeda itu dengan tidak segera menyambut pikiran berikutnya. Diam dalam keheningan. Itulah kesadaran tanpa isi. Lakukan ini berulang kali, setiap kali perhatian melayang, kembalikan ke jeda di antara pikiran.
Kesalahan umum dalam memahami kesadaran sejati.
Ada beberapa jebakan yang perlu diwaspadai. Pertama, menganggap kesadaran sejati adalah sesuatu yang istimewa, luar biasa, atau hanya bisa dicapai oleh orang-orang tertentu di gunung. Tidak. Kesadaran sejati adalah yang paling biasa, bahkan terlalu biasa sehingga kita tidak pernah menyadarinya. Ia selalu ada di setiap saat, bahkan saat kamu membaca kata-kata ini. Kedua, menganggap harus mencapai sesuatu dulu, harus bermeditasi bertahun-tahun, harus pergi ke gunung, harus mendapatkan guru hebat. Tidak. Kamu tidak perlu mencapai apapun karena kesadaran sejati sudah menjadi dirimu sekarang. Pengenalannya bukan pencapaian, tetapi pengakuan, atau mengingat kembali. Seperti seseorang yang lupa bahwa ia memakai kacamata. Ia tidak perlu membuat kacamata baru. Ia hanya perlu diingatkan bahwa kacamata sudah ada di wajahnya. Ketiga, menganggap kesadaran sejati berarti tidak boleh marah, tidak boleh sedih, tidak boleh merasakan apapun. Tidak. Tubuh dan pikiran akan tetap marah atau sedih sesuai kondisinya. Yang berubah adalah kamu tidak lagi teridentifikasi dengan kemarahan itu. Kamu tahu bahwa kemarahan terjadi di dalam kesadaran, bukan pada kesadaran. Keempat, mencari kesadaran sejati seolah-olah ia ada di tempat lain, di masa depan, atau di dalam titik tertentu di tubuh. Ini adalah jebakan terbesar. Kesadaran sejati tidak ada di masa depan, tidak ada di ruang lain, tidak ada di dalam tubuh tertentu. Ia ada di sini, sekarang, karena kamulah dia. Ibarat ikan yang bertanya, Di mana lautan. Saya sudah berenang ke mana-mana, tidak ketemu. Padahal ia sedang berada di dalam lautan.
Manfaat mengenali kesadaran sejati dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenal kesadaran sejati bukan hanya untuk para pertapa. Manfaatnya sangat praktis dan bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kedamaian yang tidak tergantung keadaan. Biasanya kita damai hanya saat keadaan baik. Setelah mengenal kesadaran sejati, kita bisa damai meski keadaan buruk, karena ada dimensi dalam diri yang tidak tersentuh oleh keadaan luar. Kedua, bebas dari ketakutan akan kematian. Ketika kamu tahu bahwa dirimu yang sejati adalah kesadaran yang tidak lahir dan tidak mati, maka kematian tubuh dilihat seperti berganti baju. Tidak ada yang benar-benar mati. Ketiga, melihat dunia dengan mata baru. Dunia tidak lagi dilihat sebagai kumpulan objek terpisah yang harus diperebutkan, tetapi sebagai tarian kesadaran yang indah. Engkau tidak merasa terpisah dari apapun. Keempat, responsif bukan reaktif. Alih-alih bereaksi otomatis, marah jika diprovokasi, kamu bisa merespons dengan bijaksana karena ada ruang antara stimulus dan respons. Ruang itu adalah kesadaran sejati. Kelima, hidup menjadi ringan. Tidak perlu membawa beban identitas yang berat. Tidak perlu membuktikan apapun. Tidak perlu menjadi siapapun. Kamu cukup ada. Keenam, hubungan dengan orang lain menjadi lebih tulus. Karena kamu melihat kesadaran yang sama di mata orang lain, kamu tidak perlu berpura-pura atau bermain peran. Kamu bisa menjadi diri sendiri, dan membiarkan orang lain menjadi diri mereka sendiri.
Kesimpulan tentang kesadaran sejati.
Kesadaran sejati adalah dirimu sebelum semua cerita, sebelum semua label, sebelum semua identitas, sebelum semua pikiran, sebelum semua perasaan, sebelum semua pengalaman. Ia tidak jauh, tidak tersembunyi, tidak sulit. Ia adalah yang paling dekat, bahkan lebih dekat dari napasmu sendiri. Masalahnya bukan karena ia sulit ditemukan, tetapi karena kita terlalu terbiasa melihat isinya sehingga lupa pada wadahnya. Kita terlalu sibuk dengan film sehingga lupa pada layar. Terlalu sibuk dengan awan sehingga lupa pada langit. Terlalu sibuk dengan gelombang sehingga lupa pada lautan.
Setelah membaca penjelasan ini, jangan mencari kesadaran sejati. Jeda sejenak. Tarik napas. Perlahan. Rasakan ada yang membaca kata-kata ini. Itu bukan mata, karena mata buta tanpa cahaya kesadaran. Itu bukan otak, karena otak mati tanpa kehidupan. Itu bukan pikiran, karena pikiran bisa diam. Yang membaca adalah kesadaran sejati, dirimu sendiri. Dan ia tidak perlu dicari karena ia yang mencari. Ia tidak perlu diraih karena ia yang meraih. Ia tidak perlu diketahui karena ia adalah pengetahuan itu sendiri. Cukup diam. Cukup sadar. Cukup menjadi dirimu. Itu sudah cukup. Itu sudah sempurna. Itu sudah kebebasan.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar
Posting Komentar