15. Apa yang dimaksud dengan pengamat di dalam diri

 15. Apa yang dimaksud dengan pengamat di dalam diri

Pertanyaan ini mengajak kita untuk mengenali aspek kesadaran yang paling fundamental, yaitu kemampuan untuk menyaksikan segala sesuatu yang terjadi dalam tubuh, pikiran, dan lingkungan, tanpa terlibat atau teridentifikasi dengan apa yang diamati. Jawaban singkatnya, pengamat di dalam diri adalah aspek kesadaranmu yang dapat menyaksikan segala sesuatu yang terjadi, tanpa terlibat atau teridentifikasi dengan apa yang diamati. Ia bukan entitas mistis di tempat tertentu, melainkan fungsi kesadaran untuk menyadari dirinya sendiri. Mengenal pengamat ini adalah langkah awal untuk membedakan dirimu yang sejati dari isi pengalamanmu. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan pengertian pengamat secara mendalam, disertai latihan-latihan praktis untuk mengenalinya langsung.
Pengertian sederhana pengamat.
Pengamat adalah yang melihat, bukan yang dilihat. Yang mendengar, bukan yang didengar. Yang merasakan, bukan yang dirasakan. Yang mengetahui, bukan yang diketahui. Dalam kehidupan sehari-hari, perhatianmu biasanya tertuju pada objek. Kamu melihat pemandangan di luar jendela. Kamu mendengar suara klakson kendaraan. Kamu merasakan sakit di punggung setelah duduk lama. Kamu memperhatikan pikiran yang melayang tentang pekerjaan. Dalam semua pengalaman ini, ada yang melakukan tindakan melihat, mendengar, merasakan, dan memperhatikan. Itulah pengamat. Pengamat tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak bersuara. Ia tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar dengan telinga, tidak bisa diraba dengan tangan. Namun semua penglihatan, pendengaran, dan perabaan hanya mungkin karena ada pengamat. Ia adalah subjek yang membuat semua objek bisa dialami. Tanpa pengamat, tidak ada pengalaman. Dunia bisa tetap ada secara fisik, tetapi tanpa kesadaran yang mengamati, tidak ada yang tahu bahwa dunia itu ada. Pengamat adalah pintu masuknya dunia ke dalam eksistensimu. Ia adalah pusat dari semua pengalamanmu.
Pengamat bukanlah pikiran.
Pikiran sering mengaku sebagai pengamat. Pikiran berkata, Aku melihat ini, aku mendengar itu, aku merasakan ini, aku berpikir begitu. Pikiran dengan percaya diri mengambil peran sebagai subjek. Namun pikiran hanyalah kumpulan kata-kata, gambar, ingatan, konsep, dan kebiasaan mental. Pikiran juga dapat diamati sebagai objek. Coba amati pikiranmu. Siapa yang mengamati pikiran. Itulah pengamat yang lebih dalam dari pikiran. Pikiran adalah seperti komentator di stadion yang terus-menerus berbicara tentang pertandingan. Komentator bukan pemainnya, bukan juga pertandingannya. Ia hanya memberi komentar. Demikian pula, pikiran adalah komentator yang terus menerus memberi label, analisis, penilaian, dan cerita tentang apa yang diamati. Tetapi di belakang komentator, ada pengamat diam yang hanya melihat, tanpa komentar. Pengamat tidak perlu berbicara karena ia hanya melihat. Pikiran datang dan pergi, komentar naik turun, tetapi pengamat tetap diam, selalu hadir. Saat pikiran sedang ramai, pengamat tetap diam. Saat pikiran tenang, pengamat tetap ada. Bahkan saat pikiran mengatakan, Aku tidak bisa menemukan pengamat, suara itu adalah pikiran, dan yang mendengar suara itu adalah pengamat.
Di mana pengamat berada.
Secara fisik, pengamat tidak berada di tempat tertentu. Banyak orang mengira pengamat berada di belakang mata atau di dalam kepala, karena dari sanalah mereka biasanya merasakan pusat kesadaran. Rasakan sekarang. Rasakan bahwa kamu melihat dari balik mata. Ada rasa bahwa pusat kesadaranmu berada di belakang dahi. Namun coba perhatikan lebih teliti. Apakah pengamatan benar-benar terjadi di otak. Atau apakah otak itu sendiri dapat diamati oleh pengamat. Jika kamu memperhatikan sensasi di kepala, misalnya rasa tegang di dahi atau denyut di pelipis, siapa yang memperhatikan sensasi itu. Pengamat tidak bisa ditemukan sebagai objek di ruang mana pun. Ia seperti ruang itu sendiri. Ruang tidak punya lokasi karena semua lokasi ada di dalam ruang. Demikian pula, pengamat tidak punya lokasi karena semua lokasi ada di dalam kesadaran. Dalam pengalaman langsung, rasakan bahwa kesadaranmu tidak terbatas pada batas tubuh. Kesadaran tidak memiliki tepi. Rasakan ruang di sekitarmu. Apakah kesadaran berhenti di kulit kepala. Atau apakah kesadaran meliputi ruang di depan, di belakang, di samping, di atas, di bawah. Pengamat tidak terletak di sini atau di sana. Ia adalah ruang tempat semua pengalaman terjadi. Ia tidak bisa ditemukan sebagai objek karena ia adalah subjek. Mencari pengamat seperti mencari mata tanpa cermin. Mata tidak bisa melihat dirinya sendiri, tetapi mata tetap bisa melihat. Kamu tidak perlu menemukan pengamat sebagai objek. Cukup sadari bahwa kamulah pengamat itu.
Pengamat hadir dalam tiga kondisi kesadaran.
Pengamat hadir dalam tiga kondisi kesadaran utama yang dialami manusia setiap hari.
Pertama, saat bangun atau terjaga. Dalam kondisi ini, pengamat aktif melihat dunia luar melalui panca indra, melihat pikiran yang berlalu lalang, melihat sensasi tubuh, melihat emosi yang muncul. Semua pengalaman sehari-hari, dari bangun tidur hingga tidur lagi, disaksikan oleh pengamat. Bahkan saat kamu lupa pada pengamat, karena sibuk dengan objek, pengamat tetap hadir. Ia hanya terlupakan, tidak hilang.
Kedua, saat bermimpi. Saat tidur dan bermimpi, ada juga pengamat yang melihat mimpi. Dalam mimpi, kamu bisa melihat diri sendiri berjalan di suatu tempat, atau melihat pemandangan aneh, atau berbicara dengan orang yang sudah meninggal. Siapa yang melihat mimpi itu. Ada kesadaran yang tetap berfungsi meskipun tubuh fisik tidur dan panca indra tidak aktif. Pengamat dalam mimpi sebenarnya adalah pengamat yang sama dengan saat bangun. Hanya objeknya yang berbeda. Mimpi adalah objek halus, dunia fisik adalah objek kasar. Pengamatnya satu.
Ketiga, saat tidur nyenyak tanpa mimpi. Ini adalah kondisi yang paling halus. Dalam tidur nyenyak tanpa mimpi, tidak ada objek yang diamati. Tidak ada dunia luar, tidak ada mimpi, tidak ada pikiran, tidak ada sensasi tubuh, tidak ada emosi. Namun ketika bangun, kamu berkata, Aku tidur nyenyak, aku tidak bermimpi apapun. Siapa yang tahu bahwa tidur itu nyenyak dan tanpa mimpi. Bukan pikiran, karena pikiran tidak berfungsi. Bukan tubuh, karena tubuh tidak sadar. Yang tahu adalah pengamat yang hadir bahkan tanpa objek. Dalam tidur nyenyak, pengamat hadir dalam bentuk potensial, tidak aktif, tetapi tetap ada sebagai kesadaran murni. Ini bukti bahwa pengamat tidak tergantung pada objek. Ia bisa hadir tanpa objek. Ia bisa hadir dengan objek kasar, dengan objek halus, atau tanpa objek sama sekali. Ini membuktikan bahwa pengamat adalah yang paling fundamental dalam dirimu.
Cara membedakan pengamat dengan objek yang diamati.
Latihan satu, amati napas. Duduk tegak. Tutup mata. Tarik napas dalam-dalam. Rasakan udara masuk melalui lubang hidung, mengalir ke tenggorokan, memenuhi paru-paru, diafragma turun. Hembuskan perlahan, rasakan udara keluar, dada mengempis, diafragma naik. Lakukan beberapa kali. Sekarang tanyakan dalam hati, Siapa yang merasakan napas. Bukan hidung, karena hidung hanya alat, tidak punya kesadaran. Bukan pikiran, karena pikiran bisa diam dan tetap ada yang merasakan. Ada kesadaran yang merasakan. Rasakan perbedaan antara napas yang bergerak, datang dan pergi, dengan kesadaran yang diam, yang selalu ada, yang merasakan napas. Napas adalah objek, kesadaran adalah subjek. Kamu adalah subjek, bukan objek.
Latihan dua, amati emosi. Saat kamu sedang marah, sedih, cemas, atau takut, jangan larut dalam emosi. Coba amati emosi itu dari jarak. Jangan ikut marah, jangan ikut sedih. Cukup amati. Rasakan sensasi di tubuh, mungkin panas di dada, sesak di tenggorokan, tegang di bahu. Perhatikan pikiran yang menyertai emosi, mungkin pikiran tentang ketidakadilan, tentang kesalahan orang lain, tentang masa depan yang suram. Sekarang tanyakan, Siapa yang mengamati kemarahan ini. Rasakan bahwa ada bagian dalam dirimu yang tidak ikut marah. Bagian itu diam, tenang, hanya melihat. Diam itu adalah pengamat. Semakin sering kamu melakukan ini, semakin kamu tidak lagi menjadi budak emosi. Emosi boleh datang, tetapi kamu tidak terseret.
Latihan tiga, amati pikiran. Duduk diam. Biarkan pikiran muncul dan pergi dengan sendirinya. Jangan ikuti, jangan lawan. Cukup amati seperti mengamati awan lewat di langit. Jangan naik ke setiap awan. Cukup lihat dari kejauhan. Sekarang cari siapa yang mengamati. Apakah pengamat itu ikut bergerak seperti awan. Tidak. Ia diam. Ia adalah langit, bukan awan. Pikiran datang dan pergi, pengamat tetap. Pikiran gelisah, pengamat tetap tenang. Pikiran kacau, pengamat tetap jernih. Semakin sering kamu berdiam sebagai pengamat, semakin kamu menyadari bahwa kamu bukan pikiranku. Kamu adalah kesadaran yang melihat pikiran.
Kualitas pengamat.
Pengamat memiliki beberapa kualitas yang membedakannya dari segala sesuatu yang dapat diamati.
Pertama, pengamat selalu diam. Ia tidak bergerak, tidak terburu-buru, tidak panik. Di tengah kekacauan apapun, di tengah badai emosi, di tengah hiruk-pikuk pikiran, di tengah bencana sekalipun, pengamat tetap tenang karena ia hanya melihat, tidak ikut campur. Ia seperti pusat badai yang tenang.
Kedua, pengamat tidak pernah terluka. Kritik, hinaan, fitnah, kegagalan, penolakan, semua hanya melukai ego, bukan pengamat. Pengamat hanya melihat kritik itu sebagai suara, sebagai kata-kata, sebagai getaran di udara, sebagai sensasi di telinga. Ia tidak tersinggung karena ia tidak memiliki identitas yang bisa tersinggung. Ia tidak memiliki image yang perlu dibela. Ia tidak memiliki harga diri yang perlu dilindungi. Ia hanya melihat.
Ketiga, pengamat tidak memiliki pilihan. Pengamat tidak memilih apa yang dilihatnya. Ia tidak bisa memilih untuk tidak melihat sesuatu yang muncul di hadapannya. Ia tidak bisa memilih untuk hanya melihat hal-hal yang menyenangkan dan menolak hal-hal yang tidak menyenangkan. Ia hanya menyaksikan apapun yang muncul, tanpa pilih kasih. Pemandangan indah dan pemandangan mengerikan, suara merdu dan suara bising, pikiran bahagia dan pikiran sedih, semuanya dilihat sama rata. Inilah yang membuat pengamat bebas. Ia tidak terjebak dalam memilih dan menolak.
Keempat, pengamat selalu baru setiap saat. Ia tidak membawa masa lalu. Masa lalu dibawa oleh pikiran dalam bentuk ingatan. Pengamat tidak memiliki ingatan. Setiap momen, pengamatan segar dan baru. Apa yang dilihat sekarang, dilihat sekarang. Tidak ada catatan, tidak ada prasangka, tidak ada ekspektasi. Ini sebabnya pengamat dapat melihat kebenaran apa adanya, tanpa distorsi.
Kelima, pengamat tidak bisa dihilangkan. Kamu bisa melupakan pengamat, menyangkal keberadaannya, atau sibuk dengan objek sehingga tidak menyadarinya. Tetapi pengamat tetap ada. Bahkan saat kamu berkata, Aku tidak bisa menemukan pengamat, siapakah yang mengatakan itu. Siapa yang menyadari ketidakmampuan menemukan pengamat. Itu adalah pengamat juga. Pengamat tidak bisa dihilangkan karena ia adalah dirimu. Kamu tidak bisa menghilangkan dirimu sendiri.
Perbedaan antara pengamat dan pikiran yang mengamati.
Pikiran juga bisa mengamati, tetapi dengan cara yang berbeda. Pikiran mengamati dengan label, analisis, penilaian, dan keterlibatan. Ia berkata, Ini bagus, aku suka. Ini buruk, aku tidak suka. Ini seharusnya tidak terjadi. Ini adalah kesalahan dia. Itu adalah pengamatan pikiran, bukan pengamatan murni. Pikiran mengamati untuk mengendalikan, menilai, dan mengkategorikan. Ia tidak bisa mengamati tanpa mencampuri. Pikiran seperti detektif yang datang ke tempat kejadian, lalu langsung sibuk mencari bukti, mencurigai orang, membuat teori, bukan sekadar melihat apa yang ada.
Pengamat murni melihat tanpa label, tanpa analisis, tanpa penilaian, tanpa keterlibatan, tanpa niat untuk mengendalikan. Ia hanya melihat. Seperti cermin yang memantulkan apapun tanpa berkata, Kamu cantik atau kamu jelek. Cermin hanya memantulkan. Seperti matahari yang bersinar pada semua tanpa berkata, Kamu pantas mendapat sinar atau kamu tidak pantas. Pengamat murni adalah cermin kesadaran. Untuk membedakan, coba lihat sebuah benda, misalnya gelas di meja. Pikiranmu akan langsung berkata, Gelas ini berwarna bening, terbuat dari kaca, berisi air setengah, harganya murah, bentuknya biasa. Itu adalah pengamatan pikiran. Sekarang lepaskan semua label. Jangan gunakan kata-kata. Jangan ingat-ingat tentang gelas. Cukup lihat. Lihat warna, lihat bentuk, lihat pantulan cahaya, tanpa memberi nama. Itulah pengamatan oleh pengamat murni. Latih ini setiap hari.
Pengamat dalam kehidupan sehari-hari.
Saat mengantri di kasir supermarket. Biasanya pikiran gelisah, Bosan, lama sekali, orang di depan lambat, kasirnya lambat, aku akan terlambat rapat. Jika kamu sadar akan pengamat, kamu bisa melihat kegelisahan itu tanpa ikut gelisah. Kamu bisa melihat pikiran-pikiran itu sebagai objek yang lewat. Tubuh tetap antri, kaki tetap berdiri, mata tetap melihat sekeliling, tetapi ada bagian dalam dirimu yang tenang melihat semua itu. Antrian terasa lebih ringan. Waktu berlalu tanpa beban.
Saat dipotong mobil lain di jalan. Biasanya kemarahan langsung muncul, jari mencari klakson, mulut mengeluarkan kata-kata kasar. Dengan kesadaran akan pengamat, kamu bisa melihat kemarahan itu muncul di tubuh, napas menjadi cepat, dada terasa panas, pikiran berkata, Dia sengaja, dia bodoh. Kamu bisa melihat semua itu sebagai objek. Kamu tahu, Ini amarah, aku tidak perlu menjadi amarah. Lalu kamu punya ruang untuk memilih. Kamu bisa merespon dengan tenang, atau setidaknya tidak memperparah dengan klakson berlebihan. Kamu tidak kehilangan kendali.
Saat dipuji orang. Biasanya ego akan senang, berbusa, bangga, lalu takut kehilangan pujian itu. Ego bisa menjadi sombong atau mulai bergantung pada pujian untuk merasa baik. Dengan kesadaran akan pengamat, pengamat melihat pujian itu sebagai suara, sebagai kata-kata, sebagai sensasi di telinga, sebagai reaksi senang di tubuh. Ia tidak terbuai. Ia tetap tenang, tidak terangkat oleh pujian. Ia tidak membutuhkan pujian karena ia sudah utuh. Ia juga tidak takut kehilangan pujian karena ia tidak melekat padanya.
Saat gagal. Ego bisa hancur, berkata, Aku gagal, aku tidak berharga, aku malu. Pengamat melihat kegagalan itu sebagai peristiwa, sebagai informasi, sebagai konsekuensi dari tindakan tertentu. Ia melihat kesedihan yang mungkin muncul, tetapi tidak larut. Ia tahu bahwa kegagalan adalah peristiwa di permukaan, tidak menyentuh inti dirinya. Ia tetap utuh, tetap damai, tetap bisa belajar dari kegagalan tanpa beban mental.
Kesalahan umum tentang pengamat.
Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam memahami pengamat.
Pertama, menganggap pengamat adalah entitas yang permanen dan terpisah. Pengamat bukanlah jiwa abadi dalam arti entitas yang berdiri sendiri, seperti suatu benda halus yang tinggal di dalam tubuh dan akan keluar setelah mati. Pengamat adalah fungsi kesadaran. Tidak ada pengamat tanpa yang diamati, meskipun potensi untuk mengamati selalu ada. Dalam pengalaman non-dual tertinggi, batas antara pengamat dan yang diamati melebur. Tidak ada dua, hanya satu kesadaran. Namun untuk latihan awal, mengandaikan adanya pengamat itu berguna.
Kedua, mencari pengamat sebagai objek. Kamu tidak akan pernah menemukan pengamat sebagai objek, karena ia adalah subjek. Mencari pengamat seperti mata mencoba melihat dirinya sendiri tanpa cermin. Tidak bisa. Atau seperti tangan mencoba menyentuh dirinya sendiri. Tidak bisa. Atau seperti pisau mencoba memotong dirinya sendiri. Tidak bisa. Tapi kamu bisa merasakan keberadaan pengamat dengan menjadi sadar akan sadar. Dengan merasakan bahwa ada kesadaran yang hadir. Bukan dengan mencari-cari.
Ketiga, menganggap pengamat harus terus-menerus aktif menyadari. Pengamat tidak perlu terus-menerus aktif menyadari. Dalam tidur nyenyak, ia hadir secara potensial. Dalam aktivitas sehari-hari, kadang kamu lupa pada pengamat karena fokus pada objek. Itu wajar. Yang penting adalah kemampuan untuk mengingatnya kembali. Semakin sering kamu mengingat, semakin lama kamu bisa berdiam sebagai pengamat. Tujuan akhir bukanlah menjadi pengamat sepanjang waktu, tetapi menyadari bahwa kamu selalu sudah menjadi pengamat, bahkan saat lupa.
Manfaat mengenali pengamat.
Mengenali pengamat membawa banyak manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, kamu tidak mudah terseret emosi. Amarah, sedih, cemas, takut tetap muncul sebagai fenomena alamiah, tetapi mereka tidak lagi menguasaimu. Ada jarak. Kamu bisa melihat emosi sebagai gelombang yang lewat, bukan sebagai banjir yang menenggelamkan. Kamu masih bisa merasakan emosi, tetapi tidak kehilangan kedamaian batin.
Kedua, kamu tidak terlalu serius pada diri sendiri. Identitas sosial dan cerita diri terasa lebih ringan. Kamu bisa tertawa pada kekonyolan egomu karena ada pengamat yang melihat dari atas, yang tidak ikut terjebak dalam drama. Kamu tidak perlu membela image mati-matian. Kamu tidak perlu takut kehilangan muka. Kamu tidak perlu selalu menjadi yang terbaik.
Ketiga, kedamaian menjadi aksesibel setiap saat. Kamu tidak perlu menunggu situasi sempurna, liburan ke pantai, atau ruang meditasi khusus untuk merasa damai. Cukup ingat pengamat, maka kedamaian yang selama ini tertutup oleh kebisingan pikiran dan kegaduhan dunia akan terasa kembali. Di tengah kemacetan, di tengah keramaian, di tengah krisis sekalipun, kamu bisa mengakses kedamaian itu.
Keempat, kamu lebih hadir dalam hidup. Bukan menjalani hidup seperti robot yang bergerak otomatis, atau seperti pelaku yang sibuk dengan target dan hasil, tetapi sebagai saksi yang sadar. Setiap momen, setiap napas, setiap langkah, setiap tegukan teh, dirasakan lebih dalam, lebih kaya, lebih bermakna. Hidup tidak lagi terasa seperti berlomba, tetapi seperti tarian.
Kelima, kamu mulai mengenal jati diri. Pengamat adalah pintu masuk menuju kesadaran murni. Dengan sering berdiam sebagai pengamat, lama-lama batas antara pengamat dan yang diamati mulai kabur. Kamu menyadari bahwa tidak ada dua, hanya satu kesadaran. Dan kesadaran itu adalah dirimu yang sejati. Pengamat adalah gerbang, jati diri adalah rumah.
Latihan menjadi pengamat dalam keseharian.
Latihan pengamat dalam aktivitas. Pilih satu aktivitas rutin yang kamu lakukan setiap hari, misalnya mandi, mencuci piring, menyikat gigi, atau berjalan kaki. Saat melakukan aktivitas itu, alihkan sebagian perhatianmu ke dalam. Rasakan ada yang melihat tanganmu bergerak, melihat air mengalir, melihat sikat gigi naik turun, melihat kaki melangkah, melihat pikiran yang mungkin melayang. Jangan lakukan apapun dengan pengamatan itu, cukup amati. Jangan menilai apakah gerakanmu sudah benar atau salah, cukup amati. Lakukan ini setiap hari, secara konsisten.
Latihan pengamat dalam interaksi. Saat berbicara dengan seseorang, baik itu rekan kerja, keluarga, atau teman, sisihkan sedikit kesadaran untuk mengamati dirimu sendiri yang sedang berbicara. Amati nada suaramu, apakah tinggi rendahnya, apakah cepat lambatnya. Amati bahasa tubuhmu, apakah tangan bergerak, apakah kepala mengangguk. Amati pikiran yang muncul di sela-sela bicara, mungkin ada pikiran tentang apa yang akan kamu katakan berikutnya, atau penilaian tentang lawan bicara. Jangan menghakimi, cukup amati. Latihan ini akan membuat komunikasimu lebih sadar, tidak reaktif, dan lebih tulus.
Latihan pengamat dalam kesendirian. Luangkan waktu setiap hari, minimal lima menit, untuk duduk diam dan menjadi pengamat. Duduklah dengan nyaman. Tutup mata. Amati napas, tanpa mengatur, tanpa menilai. Amati sensasi tubuh, dari ujung rambut hingga ujung kaki, tanpa memilih-milih. Amati pikiran, biarkan lewat, tanpa terlibat. Amati suara sekitar, tanpa melabel. Cukup amati. Jika perhatian melayang, terseret oleh pikiran atau sensasi, tarik perlahan kembali ke posisi pengamat. Jangan memarahi diri sendiri. Lembut saja. Lakukan ini setiap hari. Kelima menit saja cukup, tetapi lakukan konsisten.
Latihan siapa yang mengamati. Di akhir sesi pengamatan, ketika pikiran sudah relatif tenang, tanyakan dalam hati, Siapa yang mengamati semua ini. Jangan jawab dengan nama atau peran. Jangan jawab dengan pikiran. Rasakan jawabannya sebagai kehadiran yang diam, tenang, tanpa bentuk. Diamlah sebagai itu. Jangan bergerak, jangan berpikir, jangan melakukan apapun. Cukup ada sebagai kesadaran yang sadar akan dirinya sendiri. Jika pikiran datang lagi, ulangi pertanyaan. Semakin sering latihan ini, semakin jelas rasa menjadi pengamat, dan semakin dekat kamu pada pengenalan jati diri.
Kesimpulan tentang pengamat di dalam diri.
Pengamat di dalam diri bukanlah konsep rumit yang perlu dipelajari bertahun-tahun di universitas atau di biara. Ia adalah kemampuan alami yang kamu miliki sejak lahir, sejak kamu sadar. Hanya saja selama ini kamu terlalu sibuk dengan objek, terlalu terpesona oleh film, terlalu tenggelam dalam pikiran, sehingga lupa pada subjek, pada layar, pada pengamat. Mengenal pengamat tidak berarti kamu harus menjadi pasif atau tidak peduli pada dunia. Justru dengan mengenal pengamat, kamu bisa bertindak lebih efektif karena tidak lagi reaktif. Kamu seperti pemain ski yang sangat sadar akan tubuh dan medannya, tahu persis apa yang harus dilakukan, tetapi tetap tenang di pusat kesadarannya. Tidak panik, tidak terburu-buru, tidak kehilangan keseimbangan. Semakin sering kamu berdiam sebagai pengamat, semakin tipis jarak antara pengamat dan yang diamati. Pada puncaknya, kamu menyadari bahwa tidak ada dua. Hanya satu kesadaran yang tampak sebagai pengamat dan yang diamati. Dan saat itu, kamu tidak lagi mencari pengamat karena kamu adalah pengamat itu sendiri, selalu sudah, tidak pernah hilang. Kamu tidak perlu menjadi pengamat, kamu sudah adalah dia. Yang kurang hanya pengenalan. Dan pengenalan itu terjadi saat kamu diam, saat kamu berhenti mencari, saat kamu cukup hadir di sini, sekarang, sebagai kesadaran yang sadar akan dirinya sendiri. Selamat mengenal pengamat. Selamat pulang ke rumahmu yang paling dalam, yang tidak pernah pergi, yang selalu menunggumu.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Siapa aku yang sebenarnya

3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati

2. Apakah aku adalah tubuh ini