14. Mengapa manusia takut kehilangan identitasnya
14. Mengapa manusia takut kehilangan identitasnya
Pertanyaan ini menyelidiki ketakutan paling mendasar yang dialami hampir semua manusia, yaitu ketakutan akan kehilangan identitas, baik itu nama, peran sosial, pekerjaan, status, hubungan, penampilan fisik, ingatan, atau keyakinan. Jawaban singkatnya, manusia takut kehilangan identitas karena ia tidak tahu siapa dirinya selain identitas itu. Selama hidup, ia dibesarkan untuk percaya bahwa dirinya adalah nama, peran, tubuh, pikiran, dan cerita pribadinya. Ketika ancaman kehilangan identitas muncul, ia merasa seperti akan mati karena tidak ada pegangan lain. Ketakutan ini sebenarnya adalah ketakutan pada kekosongan, pada tidak menjadi siapapun. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan akar ketakutan ini dan bagaimana melampauinya.
Apa yang dimaksud dengan kehilangan identitas.
Kehilangan identitas bisa berarti berbagai hal, tergantung pada aspek identitas yang terancam. Kehilangan nama baik ketika skandal menerpa, ketika fitnah menyebar, atau ketika reputasi yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam semalam. Kehilangan pekerjaan ketika dipecat, dirumahkan, atau pensiun, terutama jika pekerjaan itu sudah menjadi identitas utama selama puluhan tahun. Kehilangan peran sebagai orangtua ketika anak sudah dewasa dan pergi meninggalkan rumah, yang sering disebut sebagai empty nest syndrome. Kehilangan peran sebagai pasangan ketika bercerai atau ditinggal mati. Kehilangan penampilan fisik karena penuaan, kecelakaan, atau penyakit yang mengubah bentuk tubuh atau wajah. Kehilangan ingatan karena demensia, Alzheimer, atau cedera otak, sehingga lupa siapa diri sendiri, lupa nama, lupa keluarga, lupa masa lalu. Kehilangan keyakinan atau agama yang dianut sejak kecil, ketika mulai meragukan atau meninggalkannya. Kehilangan status sosial ketika jatuh miskin, kehilangan jabatan, atau tidak lagi dihormati. Yang umum dari semua ini adalah hilangnya cerita tentang siapa aku yang selama ini kamu yakini sebagai dirimu. Cerita itu runtuh, dan kamu merasa seperti kehilangan pijakan, kehilangan pegangan, kehilangan diri.
Contoh konkret kehilangan identitas. Seorang direktur perusahaan yang dipecat. Selama tiga puluh tahun ia berkata, Aku adalah direktur. Setiap hari ia menjalankan peran itu. Ia dihormati bawahan, dipanggil pak direktur oleh sekretaris, membuat keputusan penting yang mempengaruhi banyak orang, mendapat gaji besar, fasilitas mewah, mobil dinas, ruang kantor yang luas dengan pemandangan kota. Identitas sebagai direktur telah meresap ke dalam setiap aspek hidupnya. Ketika dipecat, identitas itu hilang. Ia merasa seperti mati. Bukan karena uang, karena ia punya tabungan pensiun yang cukup. Bukan karena tidak bisa bekerja lagi, karena ia masih sehat dan bisa mencari pekerjaan lain. Tetapi ia merasa hancur karena ia tidak tahu siapa dirinya tanpa jabatan itu. Selama tiga puluh tahun ia lupa bahwa ia adalah aktor yang memainkan peran direktur. Ia mengira dirinya adalah peran itu. Ketika peran usai, ia tidak tahu harus menjadi siapa.
Akar ketakutan adalah ketidaktahuan akan jati diri sejati.
Manusia takut kehilangan identitas karena identitas adalah satu-satunya pegangan yang ia kenal. Sejak kecil, ia diajari untuk membangun identitas. Orang tua bertanya, Siapa namamu. Anak menjawab, Aku si A. Orang tua bertanya, Kamu anak baik atau nakal. Anak belajar bahwa ia memiliki identitas sebagai anak baik atau nakal. Sekolah bertanya, Kamu pintar dalam pelajaran apa. Anak belajar bahwa ia memiliki identitas sebagai anak yang pintar matematika atau bodoh dalam bahasa. Masyarakat bertanya, Kamu dari suku mana, agama apa, keluarga kaya atau miskin. Anak belajar bahwa ia memiliki identitas suku, agama, dan kelas sosial. Remaja bertanya, Kamu punya pacar atau tidak, kamu ngeband atau tidak, kamu masuk geng mana. Remaja membangun identitas sosial. Dewasa bertanya, Pekerjaanmu apa, jabatanmu apa, rumahmu di mana, mobilmu apa. Dewasa membangun identitas karir dan materi. Semua identitas ini seperti tiang-tiang yang menopang bangunan rasa diri. Jika satu tiang dicabut, bangunan itu goyang. Jika beberapa tiang dicabut, bangunan itu miring. Jika semua tiang dicabut, bangunan itu runtuh. Dan karena ia tidak tahu bahwa ada yang lebih mendasar dari bangunan itu, yaitu tanah tempat tiang-tiang itu berdiri, ia menganggap keruntuhan bangunan sebagai kematian dirinya.
Padahal, yang lebih mendasar adalah kesadaran yang menjadi tanah tempat tiang-tiang identitas berdiri. Tanah tidak akan runtuh meskipun semua tiang dicabut. Rumah bisa roboh, tanah tetap ada. Demikian pula, identitas bisa hancur, kesadaran tetap ada. Tetapi karena ia tidak pernah mengenal tanah, ia hanya mengenal bangunan, maka ia takut bangunannya hancur. Ia tidak tahu bahwa di bawah bangunan itu ada tanah yang kokoh, yang tidak pernah goyah, yang selalu bisa menopang bangunan baru jika diperlukan. Ketakutan kehilangan identitas sebenarnya adalah ketidaktahuan akan jati diri sejati. Jika seseorang mengenal kesadaran sebagai jati dirinya, ia tidak akan takut kehilangan identitas apapun, karena ia tahu bahwa identitas hanyalah pakaian, dan pakaian bisa diganti tanpa mempengaruhi yang memakainya.
Mekanisme psikologis rasa memiliki identitas.
Secara neurosains, otak manusia memiliki apa yang disebut default mode network atau DMN, yaitu jaringan saraf yang aktif ketika seseorang tidak melakukan tugas tertentu dan sedang melamun, mengingat masa lalu, merencanakan masa depan, atau berpikir tentang dirinya sendiri. DMN inilah yang menghasilkan rasa aku yang berkelanjutan, yaitu cerita tentang siapa aku, tentang masa laluku, tentang masa depanku, tentang hubunganku dengan orang lain, tentang nilai diriku. DMN adalah panggung tempat ego tampil. Ketika identitas terancam, DMN menjadi sangat aktif. Ia menciptakan kecemasan, ketakutan, pikiran-pikiran bencana, dan reaksi defensif. Tubuh merespon dengan melepaskan hormon stres, detak jantung meningkat, pernapasan menjadi pendek, otot-otot tegang. Ini adalah respons melawan atau lari, tetapi dalam versi psikologis, yaitu melawan ancaman terhadap identitas atau lari dari situasi yang mengancam identitas.
Menariknya, pada meditator yang berpengalaman, DMN menjadi kurang aktif. Mereka lebih bisa diam, lebih bisa tidak berpikir tentang diri mereka sendiri. Mereka tidak terus-menerus memutar cerita tentang aku. Dan mereka juga lebih sedikit mengalami ketakutan kehilangan identitas, karena mereka tidak terlalu terikat pada cerita diri. Mereka tahu bahwa cerita diri hanyalah cerita, bukan realitas mutlak. Ini adalah bukti bahwa ketakutan kehilangan identitas bukanlah keharusan biologis yang tidak bisa diubah. Ia bisa dilatih, bisa dikurangi, bahkan bisa dilampaui sepenuhnya dengan latihan spiritual yang tepat, terutama dengan meditasi dan penyelidikan diri.
Identitas sebagai mekanisme bertahan hidup dari sudut pandang evolusi.
Dari sudut pandang evolusi, memiliki identitas dalam kelompok sangat penting untuk bertahan hidup. Manusia purba yang hidup dalam kelompok memiliki peluang bertahan hidup yang jauh lebih tinggi daripada manusia purba yang hidup sendirian. Kelompok memberikan perlindungan dari binatang buas, bantuan dalam berburu, berbagi makanan, perawatan saat sakit, dan kesempatan kawin. Untuk bisa diterima dalam kelompok, seorang individu harus memiliki identitas yang jelas, yaitu posisi dalam kelompok, peran yang dimainkan, dan pengakuan dari anggota kelompok lain. Manusia purba yang dikucilkan dari kelompok, yang kehilangan identitasnya, hampir pasti akan mati. Ia sendirian di alam liar, tanpa senjata yang memadai, tanpa tempat berlindung, tanpa pasokan makanan, tanpa perawatan medis.
Meskipun zaman sudah berubah, manusia modern masih membawa warisan evolusi ini. Otak kita masih merespon ancaman terhadap identitas seolah-olah itu adalah ancaman terhadap kehidupan. Inilah mengapa seseorang bisa sangat takut dipermalukan di depan umum. Secara fisik, ia tidak akan mati karena dipermalukan. Tidak ada binatang buas yang akan menerkamnya, tidak ada kelaparan yang mengancam. Namun otaknya merespon seolah-olah ia sedang dalam bahaya maut. Hormon stres terlepas, jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, pikiran kalut. Inilah mengapa seseorang bisa sangat takut dipecat dari pekerjaan. Ia mungkin punya tabungan yang cukup untuk bertahan berbulan-bulan, ia mungkin punya keterampilan untuk mencari pekerjaan lain, tetapi tetap saja rasa takut itu luar biasa. Secara rasional, ia tahu ia tidak akan mati. Namun secara emosional, otak purbanya berteriak, Kamu akan dikucilkan, kamu akan mati. Mengenali warisan evolusi ini penting agar tidak terlalu mengidentifikasikan diri dengan ketakutan tersebut. Ketakutan itu bukanlah dirimu. Ia hanya program lama dari otak yang sudah usang.
Contoh ketakutan kehilangan identitas dalam berbagai situasi.
Kehilangan identitas pekerjaan. Pensiun sering memicu depresi berat, terutama pada laki-laki di budaya di mana identitas laki-laki sangat terkait dengan pekerjaan dan kemampuan mencari nafkah. Mereka kehilangan alasan bangun pagi, kehilangan rutinitas harian, kehilangan interaksi sosial dengan rekan kerja, kehilangan panggilan kehormatan seperti pak, bu, atau doktor, kehilangan rasa berarti. Yang paling parah, mereka kehilangan definisi tentang siapa diri mereka. Orang yang sadar jati diri tidak akan hancur oleh pensiun. Ia tahu bahwa pekerjaan adalah peran yang dimainkan, bukan dirinya. Ia tetap utuh, tetap sadar, tetap bisa menemukan cara baru untuk bermanfaat, tetap bisa menikmati hidup tanpa harus bekerja. Pensiun menjadi kesempatan untuk istirahat, bukan krisis identitas.
Kehilangan identitas penampilan. Penuaan adalah kehilangan identitas yang lambat namun pasti. Rambut memutih, wajah berkerut, kulit mengendur, gigi tanggal, badan membungkuk, kekuatan otot melemah, pendengaran dan penglihatan menurun. Bagi orang yang sangat teridentifikasi dengan penampilan fisik, terutama mereka yang dulu dikenal sebagai orang cantik atau tampan, cermin setiap hari adalah siksaan. Mereka membenci refleksi mereka sendiri karena identitas sebagai orang cantik atau tampan mulai runtuh. Mereka menghabiskan banyak uang untuk krim anti-aging, botox, operasi plastik, suplemen, olahraga ekstrem, semua untuk mempertahankan identitas yang pasti akan hilang. Kecelakaan yang mengubah penampilan bisa sangat menghancurkan. Pasien luka bakar sering mengalami depresi berat bukan hanya karena rasa sakit fisik, tetapi karena mereka tidak lagi mengenali diri mereka di cermin. Wajah yang berbeda berarti orang yang berbeda. Padahal, kesadaran yang melihat dari balik mata tetap sama, tidak berubah, tidak terbakar, tidak terluka.
Kehilangan identitas hubungan. Perceraian atau kematian pasangan bisa sangat menyakitkan karena identitas sebagai suami atau istri hilang. Banyak orang bertanya, Siapa aku sekarang tanpa dia. Selama puluhan tahun mereka terbiasa berkata kami, sekarang hanya aku. Sepi bukan hanya karena kehilangan orang yang dicintai secara fisik, tetapi karena kehilangan definisi diri. Mereka tidak tahu lagi siapa mereka. Mereka mungkin harus belajar melakukan hal-hal yang dulu dilakukan pasangan. Mereka mungkin harus mengisi waktu luang yang dulu diisi bersama. Mereka mungkin harus memperkenalkan diri sebagai janda atau duda, sebuah identitas baru yang mungkin terasa pahit. Orang yang mengenal jati diri akan tetap utuh. Kesedihan atas kehilangan orang yang dicintai tetap ada, wajar, manusiawi. Tetapi tidak ada krisis identitas. Mereka tahu bahwa mereka utuh dengan atau tanpa pasangan. Mereka bisa berduka, tetapi tidak hancur. Mereka bisa merasakan kesepian, tetapi tidak kehilangan diri.
Kehilangan identitas ingatan. Ini yang paling menakutkan bagi banyak orang. Penyakit Alzheimer atau demensia membuat seseorang kehilangan ingatan secara bertahap. Lupa nama, lupa alamat rumah, lupa wajah anak cucu, lupa cara makan, cara berpakaian, cara berbicara, bahkan lupa bahwa mereka lupa. Jika identitas adalah ingatan, maka penderita Alzheimer seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia tidak lagi tahu siapa dirinya. Dari sudut pandang orang luar, ini tragis. Namun menariknya, beberapa penderita demensia lanjut yang sudah sangat parah, yang tidak lagi bisa mengenali siapapun, yang tidak lagi bisa berbicara, kadang masih bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan di saat ini. Mereka mungkin tersenyum melihat sinar matahari, mungkin menikmati sentuhan lembut, mungkin tenang saat mendengarkan musik. Kesadaran murni tetap ada meskipun cerita diri telah hancur total. Ini bukti bahwa diri sejati tidak tergantung pada ingatan. Ingatan hilang, kesadaran tetap ada. Bahkan dalam kondisi demensia paling parah sekalipun, ada kehidupan, ada kesadaran, ada kehadiran.
Ketakutan kehilangan identitas sebenarnya adalah takut pada kekosongan.
Apa yang tersisa ketika semua identitas dilepaskan. Nama hilang. Pekerjaan hilang. Peran hilang. Penampilan hilang. Keyakinan hilang. Ingatan hilang. Hubungan hilang. Status hilang. Harta hilang. Apa yang tersisa. Yang tersisa adalah keheningan, kesadaran tanpa isi, kehadiran murni tanpa cerita. Dan inilah yang paling ditakuti kebanyakan orang. Kekosongan ini tidak berbahaya. Ia justru penuh dengan kedamaian, penuh dengan potensi, penuh dengan kebebasan. Ia adalah rumahmu yang sebenarnya. Tetapi karena tidak terbiasa, karena selama hidup diisi dengan berbagai identitas, kekosongan terasa asing dan menakutkan. Ia terasa seperti kematian. Padahal ia adalah kehidupan yang belum tersentuh oleh cerita.
Kita lebih suka identitas yang menyakitkan daripada kekosongan yang damai. Lebih suka stres karena pekerjaan daripada diam tanpa identitas. Lebih suka drama dalam hubungan daripada kesendirian yang tenang. Lebih suka sibuk mengurus rumah tangga daripada diam tanpa peran. Lebih suka memiliki musuh untuk dibenci daripada tidak punya musuh. Mengapa. Karena stres, drama, kesibukan, dan kebencian terasa akrab. Mereka sudah menjadi teman lama, meskipun teman yang menyiksa. Sementara kekosongan terasa asing, tidak dikenal, menakutkan. Ini seperti seseorang yang tinggal di penjara selama bertahun-tahun. Penjara itu sempit, gelap, bau, dan menyiksa. Tetapi ia sudah terbiasa. Ia tahu persis di mana letak tembok, di mana letak jeruji, jam berapa makanan datang, suara apa yang terdengar. Ketika pintu penjara dibuka dan ia diajak keluar ke alam terbuka yang luas, ia malah takut. Langit terlalu luas, angin terlalu sepoi, sinar matahari terlalu terang. Ia lebih memilih kembali ke penjara yang akrab daripada menghadapi kebebasan yang asing. Demikian pula, kita lebih memilih identitas yang menyiksa tetapi akrab daripada kekosongan yang damai tetapi asing.
Paradoks kebebasan dalam kehilangan identitas.
Meskipun ketakutan kehilangan identitas begitu kuat dan melumpuhkan, ironisnya justru di dalam kehilangan identitas itulah kebebasan sejati ditemukan. Selama masih terikat pada identitas, kamu adalah budak dari identitas itu. Kamu harus mempertahankan image. Kamu harus sesuai dengan ekspektasi orang lain. Kamu tidak bisa menjadi dirimu sendiri karena kamu bahkan tidak tahu siapa dirimu tanpa identitas. Kamu harus terus-menerus berusaha, terus-menerus membuktikan, terus-menerus khawatir tentang apa kata orang. Ini melelahkan. Ini adalah penjara.
Ketika identitas dilepaskan, ketika kamu berani tidak menjadi siapapun, maka kamu bebas. Kamu bisa menjadi apapun sesuai situasi tanpa terbebani. Kamu tidak perlu membela image karena tidak ada image yang perlu dibela. Kamu tidak perlu takut kehilangan karena tidak ada yang bisa hilang. Kamu tidak perlu membuktikan apapun karena tidak ada yang perlu dibuktikan. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa kata orang karena tidak ada kata orang yang bisa melukai ketiadaan. Ini adalah kebebasan sejati. Orang-orang yang telah mencapai pencerahan sering digambarkan seperti anak kecil. Mereka spontan, tidak berpura-pura, tidak terbebani oleh status, tidak peduli dengan penampilan. Mereka bisa duduk di tanah tanpa takut kotor, bisa tertawa lepas tanpa takut terlihat tidak sopan, bisa menangis tanpa takut terlihat lemah. Mereka tidak takut kehilangan identitas karena mereka tidak memiliki identitas yang kaku. Mereka adalah kesadaran murni yang bebas memainkan peran apapun tanpa terperangkap. Mereka bisa menjadi raja dengan wibawa, dan lima menit kemudian menjadi pengemis dengan rendah hati, tanpa beban, tanpa rasa kehilangan. Inilah paradoksnya. Kamu harus kehilangan identitas untuk menemukan kebebasan. Kamu harus mati sebagai seseorang untuk hidup sebagai kesadaran.
Tanda-tanda bahwa ketakutan kehilangan identitas sedang mengendalikan hidupmu.
Ada beberapa tanda yang bisa kamu kenali. Pertama, kamu sangat defensif jika identitasmu dikritik. Jika seseorang mengkritik agamamu, politikmu, pekerjaanmu, atau pilihan hidupmu, kamu langsung marah, tersinggung, atau membela diri dengan keras. Kritik terhadap identitas terasa seperti serangan terhadap dirimu. Kedua, kamu sulit menerima penuaan dan berusaha keras menyembunyikan tanda-tanda usia, seperti mewarnai rambut, memakai pakaian yang terlalu muda, atau menghindari berbicara tentang usia. Ketiga, kamu panik saat pensiun atau kehilangan pekerjaan terbayang di depan mata. Kamu tidak bisa membayangkan hidup tanpa pekerjaan. Keempat, kamu tidak bisa sendirian. Tanpa orang lain di sekitarmu, kamu merasa tidak ada yang melihatmu, sehingga identitasmu terasa tidak nyata. Kamu butuh penonton untuk merasa ada. Kelima, kamu mengisi setiap waktu dengan aktivitas atau hiburan, karena jika kamu diam dan tidak melakukan apapun, kamu mulai bertanya-tanya siapa dirimu tanpa semua aktivitas itu. Keenam, kamu sangat bergantung pada pujian dan sangat terpukul oleh kritik. Pujian membuatmu merasa ada, kritik membuatmu merasa hancur. Ketujuh, kamu sering berkata, Ini tidak seperti aku, padahal itu hanya berarti tindakan itu bertentangan dengan identitas yang kamu bangun. Kamu terpaku pada satu versi diri, tidak fleksibel.
Cara mengatasi ketakutan kehilangan identitas.
Langkah satu, sadari bahwa identitas hanyalah cerita. Duduk diam. Sebutkan identitas-identitasmu satu per satu dalam hati. Aku adalah nama ini. Aku adalah pekerjaan itu. Aku adalah peran ini sebagai ayah atau ibu. Aku adalah warga negara ini. Aku adalah penganut agama ini. Setelah setiap pernyataan, tanyakan, Apakah benar aku ini. Rasakan bahwa identitas itu hanyalah label yang ditempel, bukan esensimu. Kamu bisa mengganti label tanpa kehilangan apapun yang penting. Seperti mengganti pakaian, tubuhmu tetap sama. Seperti mengganti foto profil di media sosial, dirimu tetap sama.
Langkah dua, kenali yang tidak pernah hilang. Di antara semua identitas yang bisa hilang, ada sesuatu yang tidak pernah hilang. Kesadaran selalu ada. Bahkan saat tidur nyenyak tanpa mimpi, bahkan saat identitas sedang krisis, bahkan saat ingatan hilang karena demensia, kesadaran tetap ada. Kenali itu sebagai dirimu yang sebenarnya. Mulailah mengalihkan identitas dari cerita ke kesadaran. Jangan lagi berkata, Aku adalah pekerjaanku. Mulailah berkata, Aku adalah kesadaran yang menyadari bahwa ada tubuh yang sedang bekerja.
Langkah tiga, lepaskan identitas secara bertahap dalam latihan harian. Cobalah untuk tidak menjadi siapapun selama beberapa menit setiap hari. Duduk diam. Lepaskan semua peran. Jangan menjadi ayah atau ibu, jangan menjadi karyawan atau bos, jangan menjadi pria atau wanita, jangan menjadi kaya atau miskin, jangan menjadi sukses atau gagal, jangan menjadi apapun. Hanya kesadaran yang hadir, tanpa nama, tanpa cerita, tanpa sejarah. Rasakan betapa ringannya. Tidak ada beban, tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan. Latih ini setiap hari, perpanjang durasinya. Bawa rasa ringan ini ke dalam aktivitas harianmu.
Langkah empat, hadapi skenario terburuk. Tanyakan pada dirimu, Apa yang paling aku takutkan kehilangan. Mungkin tubuh, mungkin ingatan, mungkin orang yang dicintai, mungkin pekerjaan, mungkin nama baik. Lalu tanyakan, Jika itu benar-benar hilang, apakah aku akan berhenti ada. Jika tubuh hilang karena mati, apakah kesadaran akan hilang. Dalam pengalaman langsung, kesadaran tidak bisa hilang karena ia adalah dirimu. Kesadaran tidak mati. Tubuh bisa hilang, kesadaran tidak. Jika ingatan hilang, apakah kesadaran hilang. Penderita demensia masih memiliki kesadaran, masih bisa merasakan, meskipun ingatannya hilang. Jika nama baik hilang, apakah kesadaran hilang. Tidak, reputasi buruk tidak mempengaruhi kesadaran. Kesadaran tetap sadar, tetap ada. Menghadapi skenario terburuk dengan kesadaran akan mengurangi ketakutan.
Langkah lima, cari role model yang telah melampaui identitas. Bacalah tentang para guru spiritual yang telah bebas dari identitas. Ramana Maharshi, Buddha, Yesus, Lao Tzu, atau siapapun yang hidupnya menunjukkan kebebasan dari keterikatan identitas. Lihat bagaimana mereka tetap damai meskipun identitas sosial mereka diserang atau tidak diakui. Lihat bagaimana mereka tidak hancur ketika kehilangan segalanya. Mereka menjadi bukti hidup bahwa kebebasan dari ketakutan kehilangan identitas itu mungkin, bukan hanya teori. Mereka adalah contoh bahwa manusia bisa hidup tanpa beban identitas, ringan, bebas, damai.
Kisah pencerahan tentang kehilangan identitas.
Kisah Ramana Maharshi. Pada usia enam belas tahun, Ramana Maharshi, yang saat itu masih bernama Venkataraman, tiba-tiba dilanda ketakutan akan kematian yang luar biasa. Tidak ada sebab fisik, ia sehat-sehat saja. Tetapi ketakutan itu datang begitu kuat. Ia berbaring di lantai, mengeraskan tubuhnya seperti mayat, dan bertanya dalam hati, Jika tubuh ini mati, siapa yang mati. Ia menyelidiki rasa aku. Ia tidak mencari jawaban dengan pikiran. Ia merasakan langsung. Ia menyelidiki dari mana rasa aku ini muncul. Dalam penyelidikan itu, rasa aku yang biasanya melekat pada tubuh dan pikiran melebur. Yang tersisa bukanlah tubuh, bukan pikiran, bukan identitas, tetapi kesadaran murni yang terang, tenang, tak terbatas. Sejak saat itu, ia tidak lagi takut akan kematian, tidak lagi takut kehilangan identitas. Ia tahu bahwa dirinya yang sejati tidak pernah lahir dan tidak pernah mati.
Kisah Eckhart Tolle. Sebelum pencerahannya, Eckhart Tolle menderita depresi berat selama bertahun-tahun. Ia sering berpikir untuk bunuh diri. Suatu malam, ketika ia berada dalam puncak keputusasaan, ia dilanda ketakutan dan kebencian yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Ia berpikir, Aku tidak tahan hidup dengan diriku sendiri. Lalu tiba-tiba ia sadar, Ada dua aku di sini. Yang satu tidak tahan, dan yang satu adalah aku yang tidak tahan. Dua entitas yang berbeda. Siapa yang benar. Dalam ledakan kesadaran itu, identitas lamanya, yaitu dirinya yang depresif, yang tidak berharga, yang penuh kebencian pada diri sendiri, runtuh. Yang tersisa adalah kedamaian yang luar biasa, kebahagiaan yang tidak beralasan, dan keheningan yang dalam. Ia tidak lagi takut kehilangan identitas karena ia melihat bahwa identitas lamanya adalah sumber penderitaan, dan kehilangan identitas itu justru adalah kebebasan.
Kesimpulan tentang ketakutan kehilangan identitas.
Ketakutan kehilangan identitas adalah ketakutan akan kematian ego. Dan ego takut mati karena ia tidak tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar hidup. Ego hanyalah kumpulan pikiran yang terus berubah, seperti tarian api di atas lilin, seperti pusaran air di sungai. Tidak ada entitas padat yang perlu takut mati. Yang kamu takutkan kehilangan sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Nama diberikan oleh orang tuamu. Pekerjaan didapat dari perusahaan atau usahamu, bisa hilang kapan saja. Peran dimainkan di atas panggung kehidupan, tidak permanen. Tubuh dipinjam dari alam, suatu saat harus dikembalikan. Ingatan adalah rekaman kimiawi di otak, bisa rusak, bisa memudar. Keyakinan adalah produk budaya dan pendidikan, bisa berubah. Semua akan kembali ke asalnya. Tidak ada yang perlu diratapi secara mendalam karena tidak ada yang benar-benar hilang. Yang hilang hanyalah ilusi bahwa semua itu adalah dirimu.
Di balik semua identitas yang lepas, ada dirimu yang sejati, kesadaran yang tenang dan abadi. Ia tidak pernah kehilangan apapun karena ia tidak pernah memiliki apapun. Ia tidak perlu takut karena tidak ada yang bisa mengancamnya. Ia adalah rumahmu yang sebenarnya. Semakin kamu mengenal jati diri ini, semakin ringan ketakutanmu. Kamu bisa memainkan peran-peran dalam hidup dengan ringan seperti aktor di atas panggung. Kamu bisa menjadi ayah atau ibu dengan penuh tanggung jawab, tetapi di dalam hati kamu tahu bahwa itu hanya peran. Kamu bisa menjadi karyawan yang rajin, tetapi kamu tidak hancur jika dipecat. Kamu bisa menjadi pasangan yang setia, tetapi kamu tidak kehilangan diri jika berpisah. Ketika peran usai, kamu tersenyum, membungkuk kepada penonton, dan berjalan keluar panggung dengan damai, tanpa beban, tanpa rasa kehilangan, tanpa takut, karena kamu tahu bahwa kamu bukan peran itu. Kamu adalah aktor. Kamu adalah kesadaran. Kamu adalah kebebasan itu sendiri. Selamat melampaui ketakutan kehilangan identitas. Selamat pulang ke rumahmu yang tidak pernah hilang.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar
Posting Komentar