13. Apa perbedaan antara pikiran dan kesadaran

 13. Apa perbedaan antara pikiran dan kesadaran



Pertanyaan ini mengajak kita untuk membedakan dua aspek fundamental dalam pengalaman manusia, yaitu pikiran sebagai alat berpikir yang berisi kata-kata, gambar, dan konsep, dan kesadaran sebagai subjek yang mengamati semua isi pikiran tersebut. Jawaban singkatnya, pikiran adalah alat yang dapat diamati sebagai objek, sementara kesadaran adalah subjek yang mengamati. Pikiran datang dan pergi, selalu berubah, dan memiliki batas. Kesadaran tidak pernah datang atau pergi, tidak berubah, dan tidak terbatas. Perbedaan paling mendasar adalah pikiran adalah isi, kesadaran adalah wadah. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan perbedaan ini secara mendalam, disertai latihan-latihan praktis untuk merasakannya langsung.
Pikiran adalah objek yang dapat diamati.
Coba lakukan eksperimen sederhana ini sekarang juga. Diam sejenak. Perhatikan pikiranmu. Apa yang terjadi. Mungkin ada kata-kata seperti, Aneh, disuruh memperhatikan pikiran. Atau mungkin ada gambar, kenangan masa kecil, rencana untuk besok, kekhawatiran tentang tagihan, atau sekadar suara batin yang bergumam tanpa arti jelas. Apapun yang muncul, perhatikan bahwa kamu bisa melihatnya. Kamu bisa berkata, Pikiranku sedang gelisah, atau Pikiranku sedang tenang, atau Pikiranku melayang ke mana-mana. Pertanyaan pentingnya adalah, siapa yang melihat pikiran itu. Jika pikiran dapat kamu amati, berarti kamu bukan pikiran itu. Kamu adalah pengamatnya. Pikiran adalah objek yang diamati. Kesadaran adalah subjek yang mengamati. Ini adalah poin fundamental. Kamu tidak bisa menjadi sesuatu yang bisa kamu lihat dari jarak. Jika kamu bisa melihat pikiranmu, berarti ada jarak antara kamu dan pikiranmu. Kamu berada di posisi yang lebih dalam, lebih stabil, lebih fundamental. Pikiran adalah seperti awan yang lewat di langit. Kamu adalah langitnya. Awan bisa diamati, langit tidak bisa diamati sebagai objek karena ia adalah ruang tempat pengamatan terjadi.
Kesadaran tidak dapat diamati sebagai objek.
Sekarang coba lakukan yang sebaliknya. Cobalah untuk melihat kesadaranmu sebagai objek. Cari. Di mana letak kesadaranmu. Apakah ia berbentuk bulat. Apakah ia berwarna biru. Apakah ia terletak di belakang mata, di dalam otak, atau di dada. Apakah ia memiliki ukuran, berat, atau suhu. Coba pegang. Apakah kamu bisa memegang kesadaranmu. Tidak bisa, bukan. Kesadaran tidak dapat diobjektifikasi. Ia tidak memiliki warna, bentuk, ukuran, atau lokasi. Mengapa. Karena ia adalah mata yang melihat, bukan benda yang dilihat. Mata tidak bisa melihat dirinya sendiri tanpa cermin. Tangan tidak bisa menyentuh dirinya sendiri. Pisau tidak bisa memotong dirinya sendiri. Demikian pula, kesadaran tidak bisa menjadi objek bagi dirinya sendiri. Ini bukan berarti kesadaran tidak ada. Ia ada, bahkan lebih nyata daripada apapun, karena semua pengalaman, termasuk pengalaman tentang pikiran, tubuh, dan dunia, ada di dalamnya. Hanya saja ia ada dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai subjek, bukan sebagai objek. Untuk mengenal kesadaran, kamu tidak bisa melihatnya sebagai benda. Kamu harus menjadi sadar akan kesadaran itu sendiri, yaitu dengan berdiam sebagai subjek, bukan mencari-cari objek. Ini adalah perbedaan mendasar yang harus dipahami. Mencari kesadaran seperti seseorang yang memakai kacamata mencari kacamatanya. Ia tidak akan menemukan karena ia melihat melalui kacamata itu. Demikian pula, kamu tidak akan menemukan kesadaran sebagai objek karena kamu melihat melalui kesadaran itu.
Pikiran selalu berubah, kesadaran tetap sama.
Perhatikan pikiranku dari detik ke detik, dari menit ke menit. Pikiran tentang masa lalu berganti menjadi pikiran tentang masa depan, lalu menjadi khayalan, lalu menjadi analisis, lalu menjadi kekhawatiran, lalu menjadi kenangan, lalu menjadi rencana, lalu menjadi penyesalan, lalu menjadi harapan. Semuanya berganti dengan kecepatan yang luar biasa. Pikiran yang cemas berganti menjadi pikiran tenang, lalu cemas lagi, lalu bosan, lalu marah, lalu sedih, lalu bahagia. Seperti layar televisi yang gambarnya berganti setiap detik, bahkan setiap sepersekian detik. Sekarang perhatikan kesadaran yang melihat semua perubahan itu. Apakah ia ikut berubah. Ketika pikiran cemas, apakah kesadaran menjadi cemas. Tidak. Kesadaran tetap netral, melihat kecemasan itu sebagai objek. Ketika pikiran tenang, apakah kesadaran menjadi tenang. Tidak. Kesadaran tetap netral, melihat ketenangan itu sebagai objek. Ketika pikiran marah, apakah kesadaran ikut marah. Tidak. Kesadaran tetap diam, menyaksikan kemarahan itu muncul dan lenyap. Kesadaran seperti ruang. Ruang di dalam kamarmu tidak berubah ketika kamu memasukkan meja merah atau meja biru. Meja berubah, ruang tetap sama. Ruang tidak menjadi merah atau biru. Ia tetap netral. Demikian pula, isi pikiran berubah, kesadaran tetap sama. Ia tidak pernah menjadi isi pikiran. Ia adalah wadah yang tidak terpengaruh oleh isinya.
Pikiran punya batas, kesadaran tidak terbatas.
Pikiran terbatas pada apa yang pernah kamu alami, pelajari, baca, dengar, atau bayangkan. Pikiranmu tidak bisa membayangkan warna yang belum pernah kamu lihat, suara yang belum pernah kamu dengar, atau konsep yang belum pernah kamu pelajari. Pikiran juga terbatas dalam kapasitasnya. Kamu tidak bisa berpikir tentang dua hal sekaligus dengan fokus penuh. Pikiran tentang pekerjaan dan pikiran tentang liburan tidak bisa berjalan bersamaan dengan kejelasan yang sama. Pikiran juga terbatas oleh waktu. Ia hanya bisa mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan, tetapi tidak bisa berada sepenuhnya di saat ini tanpa melayang. Kesadaran tidak memiliki batasan seperti itu. Kesadaran adalah ruang di mana semua pengalaman muncul, termasuk pikiran yang terbatas. Kesadaran itu sendiri tidak terbatas. Coba rasakan sekarang. Apakah kesadaranmu berhenti di batas kulit kepalamu. Rasakan. Apakah ada tembok di batas kulit kepala yang menghentikan kesadaran. Atau apakah kesadaran terasa seperti ruang yang tidak punya tepi. Coba rasakan ruang di samping kirimu, di samping kananmu, di depanmu, di belakangmu, di atas kepalamu, di bawah kakimu. Semua itu muncul dalam kesadaranmu. Kesadaran seperti langit. Langit tidak punya batas meskipun ada awan yang lewat. Awan punya bentuk dan batas, tetapi langit tidak. Demikian pula, pikiran punya batas, kesadaran tidak. Kesadaran melingkupi semua pengalaman. Bahkan rasa batas, yaitu perasaan bahwa kesadaran terbatas di dalam kepala, muncul di dalam kesadaran itu sendiri. Jadi, kesadaran lebih luas dari apapun yang bisa kamu bayangkan.
Pikiran adalah alat, kesadaran adalah pengguna alat.
Pikiran sangat berguna untuk fungsi-fungsi tertentu. Tanpa pikiran, kamu tidak bisa menghitung uang belanja, tidak bisa merencanakan perjalanan, tidak bisa menulis pesan ini, tidak bisa memecahkan masalah matematika, tidak bisa belajar bahasa asing. Pikiran adalah alat yang luar biasa, seperti komputer yang canggih, seperti pisau bedah yang tajam. Namun, alat tidak boleh disamakan dengan pengguna alat. Komputer tidak akan menyala tanpa listrik. Pikiran tidak akan berfungsi tanpa kesadaran yang menghidupinya. Kesadaran adalah listriknya, pikiran adalah komputernya. Kamu adalah kesadaran, bukan komputer. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering keliru menganggap pikiran sebagai pengendali, sebagai diri yang sebenarnya. Kita berkata, Aku berpikir, maka aku ada. Padahal seharusnya, Aku sadar bahwa aku berpikir, maka aku ada. Kesadaran lebih fundamental daripada pikiran. Masalah terjadi ketika pikiran mengambil alih, ketika kita lupa bahwa ada kesadaran di belakangnya. Ini seperti komputer yang mengira dirinya adalah pengguna, lalu berjalan sendiri tanpa kendali. Komputer bisa melakukan banyak hal, tetapi tanpa pengguna yang sadar, komputer hanya mesin yang berjalan tanpa arah. Demikian pula, pikiran bisa berlari kemana-mana, tetapi tanpa kesadaran yang menjadi saksi, pikiran hanya program yang berjalan tanpa henti, seringkali merugikan.
Perbedaan dalam cara kerja waktu.
Pikiran hidup di dalam waktu. Ia mengingat masa lalu, menyesali masa lalu, bangga pada masa lalu, atau trauma dengan masa lalu. Ia merencanakan masa depan, mengkhawatirkan masa depan, berharap pada masa depan, atau takut pada masa depan. Pikiran tidak bisa lepas dari waktu karena ia sendiri adalah rangkaian proses temporal, yaitu sederetan kejadian mental yang terjadi bergantian. Setiap pikiran muncul, bertahan sebentar, lalu lenyap, digantikan pikiran lain. Ini adalah gerakan dalam waktu. Kesadaran selalu berada di saat ini. Ia tidak bisa pergi ke masa lalu. Ia tidak bisa pergi ke masa depan. Ia hanya ada di sekarang, selalu, tanpa terkecuali. Bahkan ketika pikiran mengingat masa lalu, kesadaran yang mengingat tetap berada di saat ini. Ingatan masa lalu muncul sebagai objek dalam kesadaran saat ini. Bahkan ketika pikiran merencanakan masa depan, kesadaran yang merencanakan tetap berada di saat ini. Rencana masa depan muncul sebagai objek dalam kesadaran saat ini. Kesadaran tidak pernah meninggalkan saat ini. Ia adalah keabadian yang diam. Mengenal kesadaran berarti melampaui belenggu waktu, setidaknya secara pengalaman, meskipun tubuh tetap bergerak dalam waktu. Kamu bisa merasakan bahwa di balik semua cerita masa lalu dan masa depan, ada saat ini yang tidak pernah bergerak. Saat ini itulah kesadaran.
Analogi untuk memahami perbedaan.
Analogi layar bioskop. Layar bioskop tidak pernah ikut ke dalam film yang diputar. Film penuh ledakan, layar tidak terbakar. Film penuh banjir, layar tidak basah. Film penuh tangisan, layar tidak ikut menangis. Film penuh tawa, layar tidak ikut tertawa. Layar tetap diam, bersih, tidak terpengaruh apapun yang terjadi di film. Pikiran adalah filmnya. Kesadaran adalah layarnya. Selama kamu hanya menonton film, kamu akan terserang naik turun mengikuti alur cerita. Kamu akan tegang saat film tegang, sedih saat film sedih, marah saat ada penjahat, bahagia saat pahlawan menang. Tetapi ketika kamu sadar akan layar, apapun yang terjadi di film, kamu tahu itu hanya film, bukan dirimu. Kamu bisa menikmati film tanpa terperangkap di dalamnya. Demikian pula, ketika kamu sadar akan kesadaran, apapun yang terjadi dalam pikiran, kamu tahu itu hanya pikiran, bukan dirimu. Kamu bisa berpikir tanpa terperangkap oleh pikiran.
Analogi lautan dan gelombang. Gelombang adalah gerakan di permukaan lautan. Ia datang dan pergi, besar dan kecil, kuat dan lembut, bergulung-gulung dan pecah di pantai. Namun gelombang tidak lain adalah air laut. Ia tidak terpisah dari lautan. Di bawah gelombang, lautan tetap tenang, dalam, dan tidak terpengaruh oleh gelombang di permukaan. Pikiran adalah gelombang. Kesadaran adalah lautan. Kamu bisa terombang-ambing di permukaan, diseret oleh gelombang pikiran yang naik turun, atau kamu bisa menyelam ke kedalaman, di mana gelombang permukaan tidak terasa. Di kedalaman itu, yang ada hanya ketenangan, kedamaian, dan kesadaran yang tidak tergoyahkan.
Analogi matahari dan cahaya. Matahari memancarkan cahaya. Tanpa matahari, tidak ada cahaya. Namun cahaya bukanlah matahari. Cahaya bisa redup, terhadap, atau berwarna jika melewati filter. Cahaya bisa dipantulkan, dibiaskan, atau diserap. Matahari tetap terang tak terhingga, tidak terpengaruh oleh apapun yang terjadi pada cahayanya. Kesadaran adalah matahari. Pikiran adalah cahaya yang telah melewati filter konsep, bahasa, keyakinan, dan pengalaman masa lalu. Pikiran selalu berwarna oleh filter-filter itu. Pikiran tidak pernah murni. Kesadaran murni tidak berwarna, tidak terbatas, tidak terdistorsi. Mengenal kesadaran berarti melihat langsung matahari, bukan cahaya yang sudah difilter.
Cara merasakan perbedaan secara langsung.
Jangan hanya percaya pada penjelasan di atas. Rasakan sendiri dengan latihan-latihan sederhana ini.
Latihan satu, amati pikiran, lalu cari pengamat. Duduk diam. Tegakkan punggung. Tutup mata. Sekarang amati pikiran yang lewat. Jangan terlibat, jangan ikuti, jangan lawan. Cukup lihat seperti melihat awan lewat. Setelah beberapa saat, setelah pikiran sedikit tenang, alihkan perhatian dari pikiran ke yang mengamati pikiran. Rasakan perbedaan antara isi pikiran dan kesadaran yang diam itu. Pikiran terasa berat, bergerak, kadang mengganggu, seperti awan gelap. Kesadaran terasa ringan, diam, tenang, seperti langit biru. Rasakan perbedaan kualitasnya. Semakin sering kamu melakukan ini, semakin jelas perbedaannya.
Latihan dua, cari pikiran yang hilang di antara dua pikiran. Perhatikan aliran pikiranmu. Perhatikan bahwa di antara dua pikiran, selalu ada jeda. Mungkin sangat singkat, sepersekian detik, tetapi ia ada. Dalam jeda itu, tidak ada kata-kata, tidak ada gambar, tidak ada konsep. Yang ada hanya keheningan yang sadar. Rasakan keheningan itu. Itu adalah kesadaran tanpa isi. Pikiran telah pergi sebentar, tetapi kamu masih ada. Kamu masih sadar. Ini bukti langsung bahwa kamu bukan pikiranmu. Kamu masih ada bahkan saat pikiran tidak ada. Perluas jeda itu. Biarkan pikiran berikutnya tidak segera menyambut. Diam dalam keheningan. Semakin lama jeda, semakin jelas pengalaman kesadaran murni.
Latihan tiga, gunakan pertanyaan kepada siapa. Setiap kali pikiran muncul, terutama pikiran yang mengganggu, tanyakan dalam hati, Kepada siapa pikiran ini muncul. Jawabannya adalah, Kepadaku. Lalu tanyakan, Siapa aku ini. Jangan jawab dengan nama, pekerjaan, atau cerita apapun. Rasakan rasa aku yang menjadi penerima semua pikiran. Diamkan rasa aku itu. Rasakan bahwa rasa aku itu sendiri adalah kesadaran. Semakin kamu diam, semakin pikiran kehilangan tenaganya, dan yang tersisa adalah kesadaran yang tenang.
Konsekuensi jika kamu tidak membedakan pikiran dan kesadaran.
Jika kamu tidak membedakan pikiran dan kesadaran, jika kamu menganggap dirimu adalah pikiranmu, maka kamu akan menjadi budak pikiran. Setiap pikiran negatif akan langsung kamu anggap sebagai kebenaran tentang dirimu. Pikiran berkata, Kamu bodoh. Maka kamu merasa bodoh. Pikiran berkata, Kamu tidak dicintai. Maka kamu merasa tidak dicintai. Pikiran berkata, Kamu akan gagal. Maka kamu takut dan cemas. Padahal pikiran hanyalah suara, bukan fakta. Suara bisa salah. Suara bisa bias. Suara bisa hanya kebiasaan lama yang tidak relevan. Kamu akan menderita karena pikiran yang tidak terkendali. Pikiran cemas melahirkan kecemasan. Pikiran marah melahirkan kemarahan. Pikiran iri melahirkan kecemburuan. Karena kamu mengira pikiran itu adalah dirimu, kamu ikut menderita setiap kali pikiran negatif muncul. Kamu tidak punya jarak. Kamu seperti orang yang tinggal di bioskop dan mengira bahwa dirinya adalah film, sehingga setiap kali ada adegan sedih, ia menangis, setiap kali ada adegan menegangkan, ia berteriak. Kamu akan kehilangan kedamaian yang sebenarnya selalu tersedia. Kedamaian bukanlah membuat pikiran berhenti, tetapi mengetahui bahwa dirimu yang sejati adalah kesadaran yang tidak pernah terganggu oleh pikiran. Tanpa perbedaan ini, kamu akan terus mencari kedamaian dengan mengubah isi pikiran, yang seperti mengubah bayangan di air. Tidak akan pernah selesai.
Konsekuensi jika kamu mulai membedakan pikiran dan kesadaran.
Sebaliknya, ketika kamu mulai membedakan pikiran dan kesadaran, ketika kamu mulai mengenali bahwa kamu adalah kesadaran yang melihat pikiran, banyak kebebasan muncul. Pertama, kamu tidak akan mudah terseret oleh pikiran negatif. Ketika pikiran cemas muncul, kamu tahu itu hanya pikiran yang lewat. Kamu bisa melihatnya, tersenyum padanya, dan tidak ikut cemas. Seperti melihat awan hitam lewat di langit, langit tidak ikut hitam. Kecemasan mungkin masih ada, tetapi tidak menguasaimu. Kedua, kedamaian menjadi pilihan yang tersedia setiap saat. Kamu tidak perlu menunggu pikiran tenang untuk merasa damai. Kamu bisa damai sekarang juga, hanya dengan mengalihkan perhatian dari isi pikiran ke kesadaran yang menjadi latarnya. Bahkan di tengah pikiran yang kacau sekalipun, kesadaran tetap tenang. Kamu bisa memilih untuk berdiam sebagai kesadaran itu. Ketiga, kamu bisa menggunakan pikiran dengan lebih efektif. Karena tidak lagi dimakan oleh pikirannya sendiri, pikiran menjadi alat yang tajam dan jernih. Kamu bisa berpikir ketika perlu, dan berhenti berpikir ketika tidak perlu. Kamu tidak lagi menjadi korban dari pikiran yang tidak pernah berhenti. Keempat, kamu mulai merasakan kebebasan sejati. Bebas dari pikiran bukan dengan melawannya, tetapi dengan tidak melekat padanya. Kamu bebas seperti langit yang tidak terikat pada awan manapun.
Kesalahan umum dalam memahami perbedaan.
Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi. Pertama, menganggap kesadaran sebagai pikiran yang sangat halus. Tidak. Pikiran, sekalipun sangat halus seperti dalam meditasi yang dalam, tetap merupakan objek yang muncul dan lenyap. Pikiran halus adalah pikiran juga. Kesadaran adalah latar belakangnya yang tidak pernah muncul dan lenyap. Kedua, menganggap kesadaran adalah sesuatu yang istimewa, luar biasa, dan sulit dicapai. Tidak. Kesadaran adalah yang paling biasa, paling dekat, paling sederhana. Kamu tidak perlu bermeditasi bertahun-tahun, tidak perlu pergi ke gunung, tidak perlu menjadi orang suci. Kesadaran sudah menjadi dirimu sekarang. Yang kurang adalah pengenalan, bukan pencapaian. Kamu tidak perlu mendapatkannya, kamu hanya perlu melihat bahwa kamu sudah memilikinya, bahkan bahwa kamu adalah dia. Ketiga, menganggap perbedaan ini hanya teori, tidak praktis. Ini adalah kesalahan terbesar. Perbedaan antara pikiran dan kesadaran sangat praktis. Setiap kali kamu stres, cemas, marah, atau sedih, itu karena kamu lupa perbedaan ini. Cobalah saat sedang marah. Pisahkan amarah sebagai pikiran dan sensasi tubuh, lalu rasakan kesadaran yang melihat kemarahan itu. Kemarahan akan kehilangan kekuatannya. Ini bukan teori, ini praktik yang bisa langsung diuji.
Kesimpulan tentang perbedaan pikiran dan kesadaran.
Pikiran adalah apa yang kamu miliki. Kesadaran adalah siapa kamu. Pikiran adalah alat yang dapat kamu gunakan. Kesadaran adalah pengguna alat itu. Pikiran datang dan pergi seperti tamu. Kesadaran adalah rumah yang selalu ada, bahkan saat tidak ada tamu. Pikiran bisa kamu amati, kesadaran tidak bisa diamati sebagai objek karena ia adalah subjek yang mengamati. Pikiran berubah setiap saat, kesadaran tetap sama sepanjang hayat, bahkan sepanjang kehidupan. Pikiran terbatas oleh ruang, waktu, dan pengetahuan, kesadaran tidak terbatas. Pikiran sering menjadi sumber penderitaan, kesadaran adalah sumber kedamaian.
Selama kamu mengira dirimu adalah pikiran, kamu akan hidup dalam kebingungan dan penderitaan, karena pikiran tidak pernah diam, selalu menginginkan sesuatu, selalu menolak sesuatu, selalu membandingkan, selalu mengkhawatirkan. Kamu akan terus berlari mengejar ketenangan yang tidak pernah tercapai, karena mengejar dengan pelari yang gelisah. Ketika kamu mengenali dirimu sebagai kesadaran, kamu berhenti berlari. Kamu menyadari bahwa kedamaian bukanlah tujuan, melainkan titik keberangkatanmu. Kamu sudah menjadi kedamaian itu, hanya saja selama ini tertutup oleh keributan pikiran yang kamu anggap sebagai dirimu. Bedakan antara pikiran dan kesadaran, maka kamu akan bebas. Bebas menggunakan pikiran tanpa digunakan olehnya. Bebas melihat pikiran tanpa terperangkap di dalamnya. Bebas menjadi dirimu yang sejati, yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati, hanya ada, selalu damai, selalu sekarang. Selamat membedakan. Selamat menemukan kebebasan.
Lihat Lebih Sedikit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Siapa aku yang sebenarnya

3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati

2. Apakah aku adalah tubuh ini