10. Mengapa manusia sering mencari kebahagiaan di luar dirinya

 10. Mengapa manusia sering mencari kebahagiaan di luar dirinya



Pertanyaan ini menyelidiki kecenderungan mendasar manusia untuk terus-menerus mencari kebahagiaan pada objek-objek di luar dirinya, seperti harta benda, hubungan, pujian, status, pencapaian, dan pengalaman indrawi. Jawaban singkatnya, manusia mencari kebahagiaan di luar diri karena sejak kecil ia diajari bahwa kebahagiaan berasal dari benda, orang, atau pencapaian di luar dirinya. Ia tidak pernah diajari untuk melihat ke dalam, sehingga seumur hidup ia mengejar fatamorgana. Padahal kebahagiaan sejati bersumber dari dalam, dari kesadaran yang menjadi jati dirinya. Penjelasan di bawah ini akan menguraikan mekanisme pencarian ke luar ini secara mendalam.
Pola dasar pencarian ke luar terbentuk sejak kecil.
Seorang bayi menangis. Ia merasa tidak nyaman, mungkin lapar, mungkin basah, mungkin kedinginan. Ibunya datang, memberinya susu, mengganti popoknya, atau menyelimutinya. Bayi itu merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Dari pengalaman berulang setiap hari, otak bayi merekam pola yang sangat sederhana, yaitu ada sesuatu di luar diriku yang bisa membuatku bahagia. Ketika aku tidak bahagia, aku mencari ke luar, mendapat sesuatu, lalu bahagia. Pola ini terus berlanjut sepanjang masa kanak-kanak. Saat kecil, kamu menangis minta mainan baru. Orang tua membelikan mainan itu. Kamu senang, kamu bahagia, tetapi kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Setelah beberapa hari, mainan itu biasa saja, dan kamu mulai menginginkan mainan lain yang lebih menarik. Saat remaja, kamu merasa kesepian, tidak lengkap, tidak bahagia. Kamu mencari teman, bergabung dengan geng, atau mencari pacar. Ketika kamu mendapat teman atau pacar, kamu merasa bahagia, lengkap, dan berarti. Tetapi kebahagiaan itu lagi-lagi sementara. Konflik datang, perpisahan datang, atau kebosanan datang. Kamu kembali merasa tidak bahagia, lalu mencari pasangan baru, teman baru, atau hubungan yang lebih intens. Saat dewasa, kamu bekerja keras, mengejar karir, mengejar uang, mengejar rumah, mobil, liburan mewah. Setiap kali kamu mendapat sesuatu yang baru, ada ledakan kebahagiaan sesaat. Pola menjadi kebiasaan seumur hidup, yaitu kebahagiaan ada di luar, aku harus mendapatkannya, lalu aku akan bahagia. Tidak pernah sekalipun dalam pendidikan formal atau kebanyakan pola asuh, seorang anak diajari untuk diam dan menemukan kebahagiaan yang sudah ada di dalam dirinya sendiri, tanpa perlu apapun dari luar. Tidak ada pelajaran di sekolah tentang bagaimana bahagia tanpa sebab. Tidak ada ujian tentang kebahagiaan batin. Yang ada hanya pelajaran tentang bagaimana sukses, bagaimana pintar, bagaimana kaya, bagaimana terkenal. Semua itu adalah cara untuk mendapat kebahagiaan dari luar. Kita dididik untuk menjadi pemburu kebahagiaan, bukan untuk menyadari bahwa kita adalah kebahagiaan itu sendiri.
Mekanisme dopamin di otak.
Secara biologis, otak manusia dirancang untuk mencari ganjaran atau reward. Sistem dopamin dalam otak berfungsi untuk memberikan rasa senang ketika kamu mendapat sesuatu yang diinginkan, atau ketika kamu mengantisipasi akan mendapat sesuatu yang diinginkan. Saat kamu melihat makanan enak, dopamin terlepas. Saat kamu mendapat pujian, dopamin terlepas. Saat kamu membeli barang baru, dopamin terlepas. Saat kamu mendapat like di media sosial, dopamin terlepas. Rasa senang itu membuatmu ingin mengulangi perilaku yang menghasilkan dopamin. Ini adalah mekanisme evolusi yang berguna untuk kelangsungan hidup. Nenek moyang kita yang merasa senang saat makan akan termotivasi untuk terus mencari makanan, sehingga tidak mati lapar. Namun masalahnya, dopamin tidak dirancang untuk bertahan lama. Setelah ledakan senang sesaat, kadar dopamin turun drastis. Tubuh merasa tidak puas lagi. Bahkan, setelah terbiasa dengan suatu level rangsangan, tubuh membutuhkan rangsangan yang lebih besar atau lebih baru untuk melepaskan dopamin dalam jumlah yang sama. Ini yang disebut toleransi. Inilah lingkaran setan biologis. Semakin banyak kamu mendapat, semakin tinggi ambang batas kebahagiaanmu. Kamu butuh lebih banyak dan lebih besar hanya untuk merasa sama bahagianya seperti dulu. Seseorang yang pertama kali mencicipi coklat mungkin sangat bahagia. Setelah seratus kali, ia butuh coklat yang lebih mahal atau dalam jumlah lebih banyak untuk merasakan kebahagiaan yang sama. Seseorang yang pertama kali mendapat pujian mungkin sangat senang. Setelah sering dipuji, pujian biasa tidak lagi mempan. Ia butuh pujian yang lebih besar, dari orang yang lebih terhormat, atau di depan publik yang lebih luas. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak menyadari mekanisme ini. Mereka mengira bahwa ketidakpuasan setelah mendapat sesuatu berarti bahwa apa yang baru saja didapat tidak cukup, sehingga mereka harus mencari sesuatu yang lebih baik, lebih besar, lebih baru. Mereka tidak menyadari bahwa ketidakpuasan adalah sifat alami dari sistem dopamin, bukan tanda bahwa benda yang didapat kurang berkualitas. Akibatnya, mereka terus berlari dalam treadmill yang tidak pernah berhenti, mengejar kebahagiaan yang selalu berada satu langkah di depan, seperti keledai yang mengejar wortel yang digantung di depan hidungnya.
Ilusi bahwa kebahagiaan ada di tujuan berikutnya.
Manusia hidup dengan struktur mental jika maka. Jika aku lulus ujian, maka aku akan bahagia. Jika aku mendapat pekerjaan itu, maka aku akan bahagia. Jika aku menikah dengan orang yang tepat, maka aku akan bahagia. Jika aku punya rumah sendiri, maka aku akan bahagia. Jika aku punya anak, maka aku akan bahagia. Jika aku dipromosikan, maka aku akan bahagia. Jika aku pensiun, maka aku akan bahagia. Struktur mental ini tampak logis dan masuk akal. Masalahnya, setiap kali syarat jika terpenuhi, kebahagiaan yang muncul hanya sementara. Setelah beberapa saat, kebahagiaan itu memudar, dan muncullah syarat jika baru yang lebih tinggi. Ini seperti keledai yang terus mengejar wortel yang digantungkan di depannya. Wortel selalu tampak begitu dekat, tetapi tidak pernah benar-benar sampai di mulut. Keledai itu terus berjalan, terus berlari, sampai kelelahan, tidak pernah sadar bahwa wortel itu hanya alat untuk membuatnya terus bergerak. Manusia modern hidup seperti keledai itu. Mereka berpikir, setelah aku lulus kuliah, hidup akan bahagia. Ternyata tidak. Setelah lulus, mereka berpikir, setelah aku mendapat pekerjaan, aku akan bahagia. Ternyata tidak. Setelah bekerja, mereka berpikir, setelah aku menikah, aku akan bahagia. Ternyata tidak. Setelah menikah, mereka berpikir, setelah aku punya anak, aku akan bahagia. Ternyata tidak. Setelah punya anak, mereka berpikir, setelah anak-anakku besar dan sukses, aku akan bahagia. Ternyata tidak. Setelah anak-anak besar, mereka berpikir, setelah aku pensiun dan bisa istirahat, aku akan bahagia. Ternyata tidak. Pensiun malah sering membawa depresi karena kehilangan identitas. Mereka terus mencari, terus berlari, sampai akhir hayat, tanpa pernah benar-benar menemukan kebahagiaan yang mereka cari. Mereka tidak pernah menyadari bahwa kebahagiaan tidak ada di tujuan berikutnya. Kebahagiaan ada di perjalanan itu sendiri, atau lebih tepatnya, kebahagiaan ada di dalam diri yang melakukan perjalanan, bukan di tujuan.
Penguatan dari budaya konsumerisme.
Budaya modern dirancang untuk membuatmu terus merasa tidak cukup. Iklan tidak pernah berkata, Kamu sudah cukup. Tidak perlu membeli apapun. Kamu sudah sempurna seperti sekarang ini. Istirahatlah. Nikmati apa yang sudah kamu miliki. Iklan tidak akan pernah mengatakan itu karena itu akan membuat perusahaan bangkrut. Iklan selalu berkata, Kamu kurang ini. Kamu kurang itu. Rambutmu kurang indah. Kulitmu kurang putih. Badanmu kurang langsing. Rumahmu kurang mewah. Mobilmu kurang keren. Liburanmu kurang eksotis. Belilah produk kami, maka kamu akan bahagia. Iklan menciptakan rasa kurang, lalu menawarkan produk sebagai solusi. Masalahnya, solusi itu hanya sementara. Setelah membeli produk, rasa kurang itu hilang sebentar, lalu muncul lagi rasa kurang yang lain, yang lebih besar, yang lebih halus, yang lebih mahal penyelesaiannya.
Media sosial memperparah keadaan. Kamu melihat teman-temanmu memamerkan liburan ke luar negeri, makan di restoran mahal, membeli tas branded, punya pasangan romantis, punya tubuh ideal hasil gym, punya anak-anak yang lucu dan berprestasi. Kamu membandingkan hidupmu sehari-hari yang biasa-biasa saja, dengan sorotan-sorotan terbaik dari hidup mereka yang sudah diedit dan difilter. Hasilnya, kamu merasa hidupmu tidak cukup baik. Kamu merasa gagal. Kamu merasa ketinggalan. Kamu merasa harus mengejar. Tanpa sadar, kamu masuk dalam perlombaan tanpa garis finish. Kamu terus membeli, terus memamerkan, terus membandingkan, terus merasa kurang. Bahagia tidak pernah tercapai karena setelah satu keinginan terpenuhi, muncul sepuluh keinginan baru yang lebih besar, didorong oleh algoritma media sosial yang menampilkan lebih banyak hal yang belum kamu miliki. Selamanya kamu akan merasa kurang, dan selamanya kamu akan mencari ke luar. Inilah yang disebut sebagai kebahagiaan semu, yaitu kebahagiaan yang selalu bergantung pada mendapatkan sesuatu dari luar, dan karena itu selalu rapuh, selalu sementara, selalu mengecewakan.
Takut menghadapi kekosongan di dalam.
Jika seseorang berhenti mencari kebahagiaan ke luar, jika ia berhenti mengejar tujuan, berhenti membeli barang baru, berhenti memeriksa media sosial, berhenti mencari hiburan, dan diam sejenak, ia akan merasakan sesuatu yang mengganggu, yaitu kekosongan, kehampaan, atau kegelisahan. Perasaan ini sebenarnya bukan kekosongan sejati. Ia adalah tidak adanya kebisingan dan keinginan yang biasa memenuhi kesadarannya. Selama ini, pikirannya selalu sibuk dengan rencana, kekhawatiran, lamunan, dan keinginan. Kesadarannya selalu penuh dengan isi. Ketika isi itu berkurang, ada ruang kosong. Karena tidak terbiasa dengan ruang kosong, ia menafsirkan ruang itu sebagai sesuatu yang menakutkan, menyedihkan, atau mengancam. Ia takut pada kekosongan. Ketakutan ini sebenarnya adalah ketakutan ego akan kematiannya. Ego hidup dari keinginan, dari cerita, dari gerakan. Dalam keheningan dan kekosongan, ego tidak punya apa-apa untuk dipegang. Ia merasa akan lenyap. Karena takut pada kekosongan, ia segera lari keluar lagi. Ia nyalakan televisi, buka media sosial, hubungi teman, makan camilan, belanja online, nyalakan musik, buka gim di ponsel. Apapun asal tidak perlu merasakan kekosongan itu. Ia mengisi kekosongan dengan segala macam stimulasi. Dengan cara ini, ia terus berlari dari rumahnya sendiri. Ia terus mencari kebahagiaan di jalanan, di pusat perbelanjaan, di layar ponsel, di pesta-pesta, di hubungan-hubungan baru. Padahal kebahagiaan yang ia cari menunggu di dalam rumah yang ia tinggalkan karena takut. Rumah itu adalah keheningan. Rumah itu adalah kesadaran. Rumah itu adalah dirinya sendiri. Ia takut pulang, padahal di sanalah kebahagiaan sejati berada.
Keyakinan keliru bahwa kepuasan indra adalah kebahagiaan.
Manusia memiliki lima indra, yaitu mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap, dan kulit untuk meraba. Setiap indra dapat diberi rangsangan yang menyenangkan. Mata melihat pemandangan indah, sunset di pantai, lukisan yang memukau. Telinga mendengar musik merdu, suara orang yang dicintai, alunan alat musik yang menenangkan. Hidung mencium aroma bunga, parfum wangi, masakan yang menggugah selera. Lidah merasakan makanan lezat, coklat meleleh di mulut, kopi yang harum dan pahit manis. Kulit merasakan sentuhan lembut, pelukan hangat, air mandi yang hangat atau sejuk. Rangsangan indra ini memang memberikan kesenangan. Tidak bisa dipungkiri. Makanan enak itu nikmat. Pemandangan indah itu mempesona. Musik merdu itu menyentuh hati. Namun kesenangan indra berbeda dengan kebahagiaan sejati.
Kesenangan indra memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Ia membutuhkan objek dari luar. Tanpa objek, kesenangan tidak muncul. Kamu tidak bisa menikmati makanan tanpa makanan. Kamu tidak bisa menikmati musik tanpa suara. Ia bersifat sementara. Begitu objeknya hilang atau berkurang, kesenangan segera memudar. Makanan habis, kenikmatan habis. Musik berhenti, ketenangan dari musik berhenti. Ia meninggalkan rasa haus atau keinginan. Semakin kamu memberi, semakin kamu ingin. Satu potong coklat membuatmu ingin dua potong. Dua potong membuatmu ingin empat potong. Ia dapat berubah menjadi penderitaan. Makanan enak yang terlalu banyak menjadi sakit perut. Musik keras yang terlalu lama menjadi sakit telinga. Pemandangan indah yang terus-menerus menjadi membosankan.
Kebahagiaan sejati memiliki ciri-ciri yang berlawanan. Ia tidak membutuhkan objek apapun. Ia sudah ada tanpa sebab. Ia tetap ada meskipun tidak ada rangsangan indra. Bahkan saat tidak ada makanan, tidak ada musik, tidak ada pemandangan, kebahagiaan batin bisa tetap terasa. Ia tidak meninggalkan rasa haus, justru memadamkan rasa haus. Ia membuatmu merasa cukup, tidak perlu lebih. Ia tidak pernah berubah menjadi penderitaan. Ia stabil, tenang, dan dalam. Manusia sering keliru mengira kesenangan indra sebagai kebahagiaan. Mereka mengejar kesenangan indra dengan harapan mendapat kebahagiaan. Mereka kecewa ketika kesenangan indra berlalu dan meninggalkan rasa hampa. Mereka tidak menyadari bahwa yang mereka cari bukanlah kesenangan indra, tetapi kebahagiaan sejati yang bersembunyi di balik kesenangan indra. Kebahagiaan sejati adalah yang membuat kesenangan indra terasa menyenangkan. Tanpa kebahagiaan sejati dalam diri, kesenangan indra tidak akan terasa. Tetapi karena kebahagiaan sejati sudah selalu ada, mereka keliru mengira sumbernya adalah objek indra.
Contoh nyata fatamorgana kebahagiaan di luar.
Contoh kasus selebriti. Banyak selebriti yang memiliki uang banyak, rumah mewah, mobil mahal, penggemar jutaan, jabatan tinggi, pasangan tampan atau cantik, tubuh ideal, dan segala sesuatu yang diimpikan kebanyakan orang. Dari luar, mereka tampak memiliki segalanya. Mereka tampak paling berbahagia. Namun banyak dari mereka yang jatuh dalam depresi berat, kecanduan narkoba, alkoholisme, gangguan kecemasan, bahkan bunuh diri. Mengapa. Karena mereka sudah mencapai apa yang diyakini masyarakat sebagai puncak kebahagiaan. Mereka sudah mendapatkan semua yang bisa didapat dari luar. Tetapi mereka tetap merasa kosong. Mereka sadar bahwa semua yang mereka kejar tidak memberikan kebahagiaan sejati. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi dengan uang, ketenaran, atau hubungan. Dan karena mereka tidak tahu alternatif lain, karena mereka tidak pernah diajari untuk melihat ke dalam, mereka hancur. Beberapa dari mereka menemukan jalan spiritual dan selamat. Beberapa tidak. Ini adalah bukti nyata bahwa kebahagiaan tidak ada di luar, tidak peduli seberapa banyak kamu mengumpulkan.
Contoh kasus orang biasa yang mencapai tujuan besar. Seseorang bekerja puluhan tahun, menabung, berkorban, dan akhirnya membeli rumah impian. Ia sangat bahagia selama beberapa minggu. Ia mengundang teman-teman, memamerkan rumah baru, merasakan kebanggaan dan kepuasan. Lalu, setelah beberapa minggu, rumah itu mulai terasa biasa saja. Ia sudah terbiasa. Kenyamanan yang dulu terasa luar biasa sekarang menjadi latar belakang. Sekarang ia butuh mobil impian. Ia bekerja lagi, menabung lagi, berkorban lagi. Begitu mobil datang, ia bahagia beberapa minggu. Lalu biasa lagi. Sekarang ia butuh liburan ke luar negeri, atau promosi jabatan, atau renovasi rumah yang lebih besar. Pola terus berulang. Setiap kali ia mencapai tujuan, ia berhenti sejenak, melihat sekeliling, dan bertanya dalam hati, Ini saja. Aku kira akan lebih membahagiakan. Lalu ia segera membuat tujuan baru yang lebih tinggi. Ia tidak pernah menyadari bahwa kebahagiaan yang ia cari tidak akan pernah datang dari tujuan berikutnya. Ia tidak pernah menyadari bahwa yang ia cari sudah ada di dalam dirinya, hanya tertutup oleh keinginan yang terus-menerus memproyeksikan kebahagiaan ke luar.
Mengapa kebahagiaan sejati tidak bisa ditemukan di luar.
Kebahagiaan sejati adalah sifat alami dari kesadaran, sama seperti panas adalah sifat alami api. Api tidak perlu mencari panas. Ia adalah panas. Demikian pula kesadaran tidak perlu mencari kebahagiaan. Ia adalah kebahagiaan. Masalahnya, kebahagiaan alami ini tertutup oleh lapisan-lapisan keinginan, ketakutan, dan identifikasi palsu. Seperti matahari yang tertutup awan, sinarnya tetap ada tetapi tidak terasa hangatnya di permukaan bumi. Kebahagiaan sejati tidak bisa ditemukan di luar karena ia tidak berada di luar. Ia berada di dalam sebagai siapa yang merasakan kebahagiaan sesaat sekalipun. Bahkan saat kamu menikmati makanan lezat, siapa yang menikmatinya. Bukan makanan itu sendiri, karena makanan tidak punya kesadaran. Bukan lidah, karena lidah hanya alat. Yang menikmati adalah kesadaran. Kesadaran itulah yang pada dasarnya bahagia. Tetapi kamu keliru mengira bahwa kebahagiaan berasal dari makanan. Kamu mengira bahwa makanan adalah sumbernya, padahal makanan hanyalah pemicu. Kesadaranmu sudah bahagia, makanan hanya membantu melepaskan kebahagiaan itu untuk sementara. Ibarat seseorang yang melihat bulan di kolam. Ia mengira bulan ada di kolam. Ia lalu berusaha menangkap bulan dengan ember. Semakin diaduk kolamnya, bulan semakin pecah dan hilang. Padahal bulan sejati ada di langit, tenang, tidak perlu ditangkap. Demikian pula kebahagiaan sejati tidak perlu ditangkap dari luar. Cukup diamkan pikiran, heningkan keinginan, maka kebahagiaan itu akan terasa dengan sendirinya. Seperti kolam yang tenang mampu memantulkan bulan dengan sempurna. Pikiran yang tenang mampu merefleksikan kebahagiaan sejati.
Tanda-tanda bahwa seseorang mulai sadar pencarian ke luar tidak membuahkan hasil.
Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kesadaran mulai bangun dari tidur panjang mengejar kebahagiaan luar. Pertama, ia mulai merasa lelah dengan perlombaan hidup yang tidak pernah selesai. Ia merasa seperti berlari di treadmill, lelah tetapi tidak maju-maju. Kedua, keberhasilan yang dulu membuatnya sangat bahagia kini hanya terasa biasa saja. Promosi jabatan tidak lagi menggairahkan. Liburan mewah terasa membosankan. Belanja barang baru tidak lagi memberikan kepuasan. Ketiga, ia mulai tertarik pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan pencapaian materi, seperti meditasi, jalan-jalan di alam tanpa tujuan, seni kontemplatif, membaca kitab suci atau buku spiritual, atau sekadar duduk diam. Keempat, ia mulai bisa duduk diam tanpa ponsel dan tidak merasa gelisah. Keheningan tidak lagi menakutkan. Kelima, ia mulai merasakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah disadari, seperti secangkir teh hangat di pagi hari, hembusan angin sejuk di wajah, suara burung di pagi hari, atau senyuman seorang anak kecil. Ia tidak perlu liburan mewah ke luar negeri untuk merasa bahagia. Kebahagiaan sederhana sudah cukup. Keenam, ia mulai bertanya-tanya, Apa sebenarnya makna semua ini. Atau, Siapa aku sebenarnya. Pertanyaan eksistensial ini muncul bukan sebagai mainan intelektual, tetapi sebagai api yang membakar dari dalam. Tanda-tanda ini adalah kabar baik. Ini adalah awal dari berakhirnya pencarian ke luar dan dimulainya perjalanan ke dalam.
Cara mengalihkan pencarian dari luar ke dalam.
Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk mengalihkan pencarian kebahagiaan dari luar ke dalam.
Langkah pertama, berhenti sejenak di tengah pengejaran. Saat kamu sedang mengejar sesuatu, entah itu uang, pasangan, pujian, promosi, atau barang baru, berhentilah sejenak. Tarik napas. Tanyakan pada dirimu, Apakah aku benar-benar membutuhkan ini untuk bahagia. Jangan jawab dengan pikiran yang sudah terprogram. Rasakan dalam keheningan. Rasakan bahwa di saat ini juga, tanpa benda itu, kamu masih bisa bernapas, masih bisa merasakan, masih bisa sadar. Kebahagiaan mungkin sudah ada, hanya tidak disadari.
Langkah kedua, sadari bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada pemenuhan keinginan. Coba rasakan saat ini juga. Tutup mata. Lepaskan semua keinginan untuk sesaat. Tidak perlu menjadi lebih baik. Tidak perlu memiliki lebih banyak. Tidak perlu pergi ke mana-mana. Cukup di sini, sekarang. Perhatikan bahwa di balik semua keinginan, ada kedamaian yang sudah selalu ada. Mungkin tersembunyi di balik kegelisahan, tetapi ia ada. Diamkan diri dalam kedamaian itu.
Langkah ketiga, bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dasar manusia sebenarnya sangat sedikit. Makan, minum, pakaian, tempat tinggal, rasa aman, dan interaksi sosial minimal. Sebagian besar yang kita kejar adalah keinginan, bukan kebutuhan. Keinginan tidak pernah berhenti. Satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan lain. Belajarlah untuk membedakan keduanya. Penuhi kebutuhan dengan bijak. Pandanglah keinginan sebagai awan yang lewat, tidak perlu dikejar semua.
Langkah keempat, praktikkan rasa cukup setiap hari. Setiap hari, luangkan waktu sejenak untuk merasakan bahwa saat ini juga, kamu sudah cukup. Kamu tidak perlu menjadi lebih baik, tidak perlu memiliki lebih banyak, tidak perlu pergi ke mana pun. Cukup. Rasa cukup ini adalah pintu masuk kebahagiaan sejati. Rasa cukup tidak berarti kamu tidak boleh berusaha memperbaiki hidup. Kamu boleh berusaha. Tetapi usaha tidak lagi didasari oleh rasa tidak cukup. Usaha didasari oleh kegembiraan, ekspresi kreativitas, atau keinginan untuk bermanfaat.
Langkah kelima, arahkan perhatian pada subjek, bukan objek. Biasanya perhatianmu tertuju pada objek, yaitu rumah, mobil, pasangan, pujian, kritik, makanan, musik. Sekarang balikkan perhatian ke subjek, yaitu yang mengalami semua objek itu. Siapa yang melihat rumah. Siapa yang menikmati pujian. Siapa yang sakit hati karena kritik. Diam dalam siapa itu. Jangan cari jawaban dengan pikiran. Rasakan kehadiran yang sadar. Kebahagiaan akan muncul dari dalam tanpa sebab, karena kebahagiaan adalah sifat alami dari kehadiran itu.
Kesimpulan tentang mengapa manusia mencari kebahagiaan di luar.
Manusia mencari kebahagiaan di luar karena ia tidak tahu bahwa kebahagiaan sudah ada di dalam. Ia seperti orang yang mencari kacamata yang ada di atas hidungnya sendiri, atau seperti ikan yang bertanya di mana lautan padahal ia sedang berenang di dalamnya. Selama kamu masih percaya bahwa kebahagiaan ada di luar, kamu akan terus berlari tanpa pernah sampai. Setiap kali kamu mencapai sesuatu, kebahagiaan yang kamu rasakan bukan berasal dari benda atau pencapaian itu, tetapi dari kesadaranmu sendiri yang sedang mengalami pemenuhan keinginan. Kamu keliru mengira sumber kebahagiaan adalah objeknya, padahal sumbernya adalah dirimu. Kebahagiaan sejati tidak perlu dicari. Ia hanya perlu tidak ditutupi. Tutuplah keinginan yang terus-menerus memproyeksikan kebahagiaan ke luar. Berhentilah berlari. Diamlah. Maka kebahagiaan yang sudah selalu ada akan terasa dengan sendirinya. Seperti langit yang selalu biru di balik awan, seperti matahari yang selalu bersinar di balik kabut. Kamu sudah menjadi kebahagiaan yang selama ini kau cari. Selamat pulang.
#meditasidalambukanrame
Lihat Lebih Sedikit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Siapa aku yang sebenarnya

3. Apakah pikiran adalah diriku yang sejati

2. Apakah aku adalah tubuh ini